[Medan | 20 Januari 2026] Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi sorotan pelaku pasar setelah tercatat terjadi transaksi crossing jumbo bernilai Rp6,9 triliun pada perdagangan Senin, 19 Januari 2026.
Berdasarkan data Stockbit, sebanyak 18,2 miliar saham BUMI berpindah tangan melalui 14 transaksi dengan harga rata-rata Rp380 per saham. Nilai transaksi tersebut menjadikannya salah satu crossing terbesar di Bursa Efek Indonesia sepanjang awal tahun 2026.
Sebagai catatan, transaksi crossing dilakukan melalui pasar negosiasi, di mana proses jual beli berlangsung antara dua pihak dengan perantara broker yang sama. Skema ini umumnya digunakan untuk transaksi berskala besar agar tidak mengganggu pergerakan harga di pasar reguler.
Hingga saat ini, belum terdapat keterbukaan resmi mengenai identitas pihak pembeli maupun penjual dalam transaksi tersebut. Tujuan strategis di balik aksi crossing jumbo ini pun masih menjadi spekulasi di kalangan pelaku pasar.
Pergerakan Saham
Pada perdagangan hari yang sama, saham BUMI dibuka di level Rp410 dan bergerak di rentang Rp390–Rp412 sepanjang sesi. Pada penutupan perdagangan, saham BUMI tercatat menguat tipis 0,49% atau naik 2 poin ke Rp412 per saham.
Aktivitas perdagangan saham BUMI juga terbilang ramai. Volume transaksi mencapai 6 miliar saham dengan frekuensi 228,1 ribu kali transaksi. Nilai transaksi harian tercatat sebesar Rp2,4 triliun, sementara kapitalisasi pasar perseroan berada di kisaran Rp152 triliun.
Sentimen Pasar
Sebagai tambahan konteks, pergerakan saham BUMI terjadi seiring penguatan pasar saham domestik secara umum. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari yang sama mencetak rekor tertinggi baru, ditutup menguat 58,46 poin atau 0,64% ke level 9.133,87, melampaui rekor sebelumnya di 9.075,40 yang tercatat pada 15 Januari 2026.
Total nilai transaksi di pasar reguler mencapai Rp35,91 triliun, dengan volume perdagangan sebesar 85,35 miliar saham dan frekuensi transaksi sebanyak 3,94 juta kali.
Transaksi crossing jumbo pada saham BUMI berpotensi mencerminkan reposisi kepemilikan strategis, baik antar pemegang saham lama maupun masuknya investor institusi. Meski tidak langsung memengaruhi harga di pasar reguler, aksi ini dapat menjadi katalis sentimen dalam jangka menengah, terutama jika diikuti dengan keterbukaan informasi lanjutan dari perseroan.

