[Medan | 19 Januari 2026] Saham emiten tekstil dan garmen menutup perdagangan Kamis (15/1/2026) dengan lonjakan signifikan. Beberapa saham bahkan menyentuh auto reject atas (ARA), menandakan adanya tekanan beli yang kuat.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham PT Trisula Textile Industries Tbk (BELL) menguat 34,15% ke Rp110 per saham dan menyentuh ARA. Kenaikan ini menandai kebangkitan setelah saham BELL stagnan di kisaran Rp36–Rp88 sepanjang setahun terakhir.
Saham emiten tekstil lainnya juga bergerak sangat kuat, antara lain:
- PT Ever Shine Tex Tbk (ESTI) naik 34,75% ke Rp190 per saham (ARA)
- PT Inocycle Technology Group Tbk (INOV) melonjak 34,56% ke Rp183 per saham (ARA)
- PT Indorama Synthetics Tbk (INDR) menguat 24,73% ke Rp3.480
- PT Golden Flower Tbk (POLU) naik 19,91% ke Rp27.100
- PT Eratex Djaja Tbk (ERTX) melesat 23,64% ke Rp271
- PT Trisula International Tbk (TRIS) naik 16,67% ke Rp238
- PT Pan Brothers Tbk (PBRX) menguat 8,93% ke Rp61
- PT Sunson Textile Manufacture Tbk (SSTM) terapresiasi 5,74% ke Rp3.130
Saham PBRX tercatat bangkit setelah sepanjang setahun terakhir berada di kisaran Rp20–Rp50 per saham.
Penyebab Penguatan: Stimulus Rp101 Triliun untuk Industri Tekstil
Lonjakan saham-saham tekstil ini sejalan dengan rencana pemerintah mengucurkan stimulus sebesar US$6 miliar atau sekitar Rp101,28 triliun (asumsi kurs Rp16.880). Stimulus tersebut disiapkan untuk melindungi industri tekstil dalam negeri yang merupakan sektor padat karya.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan bahwa stimulus ini menjadi perhatian Presiden Prabowo Subianto untuk menjaga keberlangsungan sektor padat karya, bukan hanya fokus pada sektor padat modal.
Airlangga menilai industri tekstil perlu dilindungi karena menyerap sekitar 5 juta tenaga kerja. Potensi tenaga kerja sektor ini bahkan diproyeksikan meningkat hingga 7 juta orang seiring besarnya pasar domestik Indonesia.
Untuk memperkuat daya saing, pemerintah juga mendorong ekspansi pasar ekspor dan penguatan kawasan ekonomi khusus yang dinilai mampu menghasilkan produk tekstil yang kompetitif di pasar global.
Selain stimulus, Presiden Prabowo disebut telah memutuskan pembentukan BUMN baru khusus sektor tekstil. Pendanaan sebesar US$6 miliar akan dikelola oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).

