[Medan | 24 Februari 2026] Arsari Group milik Hashim Djojohadikusumo mulai merealisasikan langkah ekspansinya di sektor energi dengan melakukan pembayaran perdana atas akuisisi hak partisipasi di Blok Duyung, Natuna. Melalui anak usahanya, PT Nations Natuna Barat, Arsari resmi membayarkan cicilan pertama untuk pengambilalihan 75% hak partisipasi (participating interest/PI) non-operator dari West Natuna Exploration Limited (WNEL).
WNEL merupakan anak usaha dari Conrad Asia Energy Ltd dan dalam transaksi ini tetap mempertahankan 25% PI sekaligus melanjutkan perannya sebagai operator Blok Duyung. Dengan struktur tersebut, Nations Natuna Barat akan menanggung 75% porsi pendanaan seluruh biaya pengembangan ke depan, termasuk pengembangan Lapangan Gas Mako sebagai aset utama blok tersebut.
Skema Pembayaran Bertahap
Berdasarkan pengumuman resmi Conrad pada Senin (23/2/2026), Nations telah melakukan pembayaran awal sebesar US$5 juta atau setara Rp84 miliar (dengan asumsi kurs Rp16.800 per dolar AS) setelah seluruh persyaratan pengalihan PI dinyatakan terpenuhi oleh Conrad dan WNEL. Pembayaran ini merupakan bagian dari total kompensasi tunai senilai US$16 juta atau sekitar Rp268,8 miliar yang disepakati dalam transaksi tersebut.
Skema pembayaran dilakukan secara bertahap. Setelah cicilan pertama, Nations akan melakukan pembayaran kedua sebesar US$4 juta dalam jangka waktu 30–45 hari ke depan. Selanjutnya, pembayaran ketiga sekaligus terakhir senilai US$7 juta akan dilakukan setelah Blok Duyung mulai berproduksi, yang ditargetkan terjadi pada akhir 2027.
Dekatkan Lapangan Mako ke FID
Direktur Pelaksana sekaligus CEO Conrad Asia Energy, Miltos Xynogalas, menilai kesepakatan dengan Nations membawa proyek Lapangan Mako semakin dekat menuju tahap krusial, yakni keputusan investasi akhir (final investment decision/FID).
“Kesepakatan ini secara signifikan memajukan proyek menuju FID, dengan target produksi pertama pada akhir tahun depan, hampir satu dekade setelah penemuan Lapangan Mako,” ujar Xynogalas.
Ia menambahkan, suntikan dana tunai dari transaksi ini datang pada waktu yang tepat bagi Conrad. Dana tersebut memungkinkan perusahaan mempercepat aktivitas pengembangan di wilayah lepas pantai Aceh, yang memiliki beberapa akumulasi gas belum dikembangkan dengan potensi pertumbuhan jangka panjang.
Menurut Xynogalas, empat akumulasi gas di wilayah tersebut, jika dikombinasikan dengan Lapangan Mako, membentuk basis sumber daya kontinjensi yang signifikan dan berpotensi memberikan profil pertumbuhan produksi gas yang solid hingga dekade berikutnya.
Potensi Produksi dan Kontrak Penjualan Gas
Lapangan Mako sendiri memiliki sumber daya kontinjensi 2C (100%) sebesar 376 billion cubic feet (Bcf). Seluruh produksi gas dari lapangan ini telah memiliki kepastian pasar melalui kontrak jual beli gas dengan PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI).
Kontrak tersebut berlaku hingga berakhirnya PSC Duyung pada Januari 2037 dan mencakup volume penjualan gas hingga tingkat produksi puncak (plateau) sebesar 111 Bbtud atau sekitar 111,9 MMscfd. Dengan demikian, seluruh sumber daya kontinjensi 2C Lapangan Mako telah terserap dalam perjanjian penjualan jangka panjang.
Makna Strategis bagi Arsari Group
Masuknya Arsari Group ke Blok Duyung menegaskan strategi diversifikasi dan ekspansi grup usaha Hashim Djojohadikusumo ke sektor migas hulu. Dengan status sebagai pemegang PI mayoritas non-operator, Arsari memperoleh eksposur signifikan terhadap aset gas strategis Natuna, sekaligus memanfaatkan momentum meningkatnya permintaan gas domestik, khususnya untuk pembangkit listrik dan industri.
Langkah ini juga memperkuat posisi Arsari sebagai pemain baru yang agresif di sektor energi nasional, melengkapi portofolio investasinya di sektor sumber daya alam dan infrastruktur energi.

