[Medan | 16 Maret 2026] Perusahaan tambang PT Bumi Resources Tbk terus memperluas portofolio bisnisnya dengan meningkatkan kontribusi dari segmen non-batubara. Emiten berkode saham BUMI tersebut kini fokus mengoptimalkan aset tambang mineral yang baru diakuisisi sebagai bagian dari strategi diversifikasi usaha.
Salah satu proyek utama yang tengah dipersiapkan adalah tambang mineral milik Wolfram Limited, perusahaan tambang asal Australia yang kini sepenuhnya dimiliki BUMI. Akuisisi 100% saham perusahaan tersebut diselesaikan pada November 2025 dengan nilai sekitar Rp698,98 miliar atau setara AUD 63,50 juta, yang dilakukan secara bertahap.
Selain itu, BUMI juga telah mengakuisisi 5,73 juta saham di Jubilee Metals Limited atau sekitar 64,98% kepemilikan per 18 Desember 2025. Perusahaan tersebut juga merupakan pengelola tambang mineral di Australia.
Tambang Wolfram Segera Produksi
Chief Corporate Affairs & Sustainability Officer PT Bumi Resources Tbk, Christopher Fong, mengatakan tambang milik Wolfram Limited akan berfokus pada produksi tembaga dengan kombinasi emas. Menurutnya, tambang tersebut diperkirakan mulai beroperasi secara komersial dalam beberapa pekan ke depan, sehingga diharapkan dapat mulai memberikan kontribusi terhadap pendapatan BUMI pada 2026.
Sementara itu, proyek tambang milik Jubilee Metals Limited akan berfokus pada komoditas emas. Saat ini perusahaan tengah menyelesaikan pembangunan pabrik pengolahan mineral, dengan target operasi komersial pada kuartal IV 2026.
Christopher menjelaskan bahwa ekspansi ke sektor mineral merupakan bagian dari strategi transformasi bisnis jangka panjang BUMI. Perusahaan secara aktif menjajaki berbagai komoditas mineral seperti tembaga, emas, bauksit, dan komoditas lainnya.
Batubara Tetap Jadi Kontributor Utama
Meski agresif melakukan diversifikasi, BUMI menegaskan bahwa bisnis batubara termal tetap menjadi kontributor utama pendapatan perusahaan dalam jangka pendek.
Christopher Fong juga menyatakan bahwa sejauh ini konflik geopolitik di Timur Tengah belum memberikan dampak langsung terhadap operasional perusahaan. Meski demikian, lonjakan harga minyak global berpotensi meningkatkan biaya energi yang digunakan dalam proses produksi batubara. Menurutnya, perusahaan belum berencana melakukan perubahan pada rencana operasional maupun struktur biaya produksi dalam waktu dekat.
Diversifikasi Dinilai Positif untuk Jangka Panjang
Analis dari BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menilai strategi diversifikasi BUMI ke sektor mineral seperti emas dan tembaga melalui proyek Wolfram dan Jubilee berpotensi memperkuat kinerja perusahaan dalam jangka panjang.
Menurutnya, kontribusi segmen non-batubara kemungkinan masih terbatas dalam jangka pendek. Namun langkah tersebut menjadi fondasi penting untuk memperluas sumber pendapatan dan mengurangi ketergantungan pada batubara.
Ke depan, BUMI dinilai perlu memperkuat integrasi operasional, mempercepat pengembangan proyek, serta mengelola kebutuhan pendanaan agar aset baru dapat segera menghasilkan arus kas. Pengembangan tambang mineral juga berpotensi membutuhkan tambahan capital expenditure (capex), terutama untuk kegiatan eksplorasi serta pembangunan infrastruktur awal.
Risiko dan Rekomendasi Saham
Sejumlah risiko yang perlu diperhatikan dalam pengembangan proyek mineral BUMI antara lain fluktuasi harga komoditas logam, risiko eksekusi proyek, serta potensi kenaikan biaya operasional sebelum tambang mencapai produksi komersial.
Selain itu, BUMI juga menghadapi tantangan terkait proses persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang sempat tertunda. Kondisi tersebut berpotensi mempengaruhi volume produksi apabila proses persetujuan berlangsung terlalu lama.
Meski demikian, Abida menilai dampak terhadap kelangsungan usaha relatif terbatas mengingat basis operasi dan pasar ekspor perusahaan masih cukup kuat. Saat ini, pihaknya belum memberikan rekomendasi khusus terhadap saham BUMI. Sementara itu, analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memberikan rekomendasi wait and see, dengan level support di Rp200 per saham dan resistance di Rp226 per saham.

