[Medan | 29 Agustus 2025] Masuknya Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara sebagai investor di proyek smelter High Pressure Acid Leach (HPAL) milik PT Vale Indonesia Tbk (INCO) berpotensi menjadi katalis positif besar bagi emiten nikel tersebut.
Danantara, melalui Danantara Investment Management, menggandeng GEM Co Ltd asal China untuk berinvestasi dalam proyek HPAL INCO yang bernilai sekitar US$ 1,42 miliar atau Rp 23,2 triliun. Penandatanganan Head of Agreement (HoA) dilakukan pada Rabu 27 Agustus 2025.
CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menekankan bahwa kemitraan dengan GEM Co Ltd yang bergerak di bidang metalurgi hijau selaras dengan agenda hilirisasi, keberlanjutan, dan inovasi. Integrasi penelitian dan pengembangan, energi hijau, serta daur ulang siklus tertutup disebut akan menciptakan nilai jangka panjang bagi Indonesia.
Selain faktor investasi, keterlibatan Danantara memberi nilai tambah strategis bagi INCO. Sebagai perpanjangan tangan pemerintah, Danantara diyakini bisa membuka jalan percepatan perizinan, akses insentif fiskal, serta sinergi dengan proyek strategis nasional. Hal ini berpotensi mempercepat realisasi pembangunan smelter.
Sejauh ini, INCO bersama GEM tengah menggarap smelter HPAL di Bahodopi, sementara proyek HPAL di Pomalaa telah lebih dulu dikembangkan bersama Zhejiang Huaoyou Cobalt Co dan Ford Motor Company.
Meskipun begitu, kinerja jangka pendek INCO masih dipengaruhi tren harga nikel global yang tahun ini cenderung melemah. Tantangan lain juga datang dari kenaikan biaya konstruksi dan potensi hambatan perizinan yang bisa memengaruhi kelangsungan proyek.
Dari sisi valuasi, sejumlah analis melihat prospek cerah INCO. Wafi, analis pasar modal, merekomendasikan beli dengan target harga Rp4.200 per saham. Sementara itu, BRI Danareksa Sekuritas dalam riset 20 Agustus 2025 mempertahankan rekomendasi beli dengan target lebih tinggi, yakni Rp4.700 per saham.
Tambahan katalis positif hadir dari persetujuan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), di mana INCO mendapat izin produksi tambahan bijih nikel saprolit sebesar 2,2 juta wet metrik ton. Produksi ini akan dibagi rata pada kuartal III dan IV-2025, masing-masing sekitar 1–1,2 juta wmt per kuartal.
Manajemen INCO menyebut telah mengunci harga premium untuk bijih tersebut di level US$25 per ton hingga Desember 2025. Hal ini diperkirakan mendongkrak pendapatan perseroan sebesar US$56 juta pada semester II-2025.
Dengan masuknya Danantara dan tambahan volume produksi, prospek INCO semakin menarik untuk jangka menengah-panjang, meskipun volatilitas harga nikel global masih menjadi faktor penentu kinerja jangka pendek.