IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Bisnis

Harga Minyak Kembali Tembus US$ 100 per Barel, Bursa Asia Bakal Melemah Lagi?

By Aurelia Tanu 2 hours ago Bisnis
Image source: AP/ investasi.kontan.co.id
SHARE

[Medan | 13 Maret 2026] Pasar saham dan obligasi di Asia diperkirakan akan mengikuti pelemahan yang terjadi di Wall Street pada perdagangan Jumat (13/3). Lonjakan harga minyak mentah kembali memicu kekhawatiran investor bahwa konflik di Iran dapat memperburuk gangguan pasokan energi global dan mendorong inflasi.

Contents
Harga Minyak Sentuh US$100Imbal Hasil Obligasi Global NaikKekhawatiran di Pasar KreditData Ekonomi Asia DinantiKetegangan AS–IranRisiko Harga Minyak Lebih TinggiProspek Kebijakan The FedPergerakan IHSG

Kontrak berjangka indeks saham untuk pasar Jepang, Hong Kong, dan Australia tercatat kompak bergerak di zona merah pada awal perdagangan Asia.

Di Amerika Serikat, indeks S&P 500 turun 1,5% dan menyentuh level terendah sejak November. Sementara itu, Nasdaq 100 melemah 1,7%, bahkan indeks saham perusahaan megakapitalisasi mulai mendekati wilayah koreksi.

Di pasar komoditas, harga emas sempat turun 1,9% sebelum kembali menguat tipis pada perdagangan Jumat pagi.

Harga Minyak Sentuh US$100

Tekanan pasar semakin besar setelah harga minyak dunia kembali melonjak. Brent Crude ditutup di atas US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak 2022.

Berdasarkan data pelacakan kapal tanker, lalu lintas pengiriman minyak melalui Selat Hormuz hampir terhenti sepenuhnya. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran pasar terkait gangguan serius pada rantai pasok energi global.

Imbal Hasil Obligasi Global Naik

Pasar obligasi juga merespons lonjakan inflasi yang berpotensi muncul dari kenaikan harga energi. Surat utang pemerintah Australia dibuka melemah setelah penurunan harga obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Imbal hasil US Treasury tenor 2 tahun yang sensitif terhadap kebijakan moneter naik 9 basis poin menjadi 3,74%, sementara tenor 10 tahun meningkat menjadi 4,26%. Pada saat yang sama, dolar AS menguat dan mencapai level tertinggi dalam dua bulan terakhir. 

Matt Maley dari Miller Tabak menilai bahwa konflik geopolitik menjadi faktor utama yang menekan pasar saat ini. Menurutnya, ketegangan di Timur Tengah yang belum mereda terus mendorong harga minyak naik dan mulai memberikan tekanan pada pasar kredit global.

Kekhawatiran di Pasar Kredit

Sentimen negatif juga datang dari tanda-tanda tekanan di pasar kredit swasta global yang diperkirakan bernilai sekitar US$1,8 triliun. Saham perbankan melemah setelah permintaan penarikan dana dari sejumlah dana kredit swasta memaksa Morgan Stanley dan Cliffwater LLC membatasi penarikan investor.

Sementara itu, Deutsche Bank dilaporkan memiliki eksposur sekitar US$30 miliar pada sektor tersebut. Dari sisi korporasi, Adobe Inc. juga memberikan proyeksi kinerja yang lemah dan mengumumkan pengunduran diri CEO-nya, yang turut menambah tekanan terhadap pasar saham teknologi.

Data Ekonomi Asia Dinanti

Di kawasan Asia, investor akan mencermati sejumlah data ekonomi yang dijadwalkan rilis pada Jumat. Data tersebut antara lain tingkat pengangguran di Filipina, jumlah uang beredar di Korea Selatan, serta indeks kepercayaan konsumen di Thailand.

Selain itu, pemerintah Jepang dijadwalkan melelang surat utang tenor tiga bulan senilai ¥4,7 triliun. Sementara itu, yen Jepang diperdagangkan di kisaran 159 per dolar AS setelah melemah sepanjang pekan.

Ketegangan AS–Iran

Ketegangan geopolitik tetap menjadi fokus utama pasar energi. Presiden Donald Trump menegaskan bahwa mencegah Iran memiliki senjata nuklir merupakan prioritas yang lebih penting dibandingkan menjaga stabilitas harga minyak. Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi baru Iran Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup.

Pemerintahan Donald Trump juga dilaporkan tengah mempertimbangkan untuk mengesampingkan undang-undang maritim lama guna mempermudah distribusi minyak domestik, sebagai upaya meredam lonjakan harga energi.

Menteri Energi AS Chris Wright bahkan menyatakan bahwa Angkatan Laut Amerika Serikat berpotensi mulai mengawal kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz pada akhir Maret.

Risiko Harga Minyak Lebih Tinggi

Analis dari Goldman Sachs memperingatkan harga minyak berpotensi melampaui rekor 2008 jika gangguan pasokan melalui Selat Hormuz berlanjut hingga Maret. Pada periode tersebut, harga Brent Crude pernah mencapai US$147,50 per barel.

Menurut International Energy Agency, konflik yang sedang berlangsung telah mengganggu sekitar 7,5% pasokan minyak global, serta porsi ekspor yang bahkan lebih besar.

Prospek Kebijakan The Fed

Dengan Federal Reserve diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan depan, investor akan mencermati setiap perubahan dalam proyeksi kebijakan bank sentral tersebut.

Stephen Brown dari Capital Economics menilai skenario paling hawkish adalah apabila The Fed menghapus bias pelonggaran dalam pernyataan kebijakannya dan mengubah proyeksi dari satu kali pemangkasan suku bunga menjadi tidak ada pemangkasan sama sekali tahun ini.

Pergerakan IHSG

Di pasar domestik, Indeks Harga Saham Gabungan diperkirakan masih bergerak konsolidatif pada perdagangan Jumat (13/3). Pada perdagangan sebelumnya, IHSG ditutup turun 0,37% ke level 7.362,117.

Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, memperkirakan support IHSG berada di area 7.300 dan resistance di level 7.420. Menurutnya, pergerakan indeks dalam jangka pendek masih cenderung berada dalam rentang tersebut seiring tingginya ketidakpastian global.

 

You Might Also Like

BBCA Setujui Dividen Final Rp 281 per Saham, atau Setara 72% dari Laba 2025

DSSA Bakal Stock Split 1:25, Harga Saham Bakal Turun ke Kisaran Rp 3.100?

Harga Minyak Naik Lagi, Bursa Asia Bersiap Dibuka Melemah?

Mau Garap Bisnis Soil Stabilization, SMGR Bakal Gandeng Taiheiyo Cement

WIFI dan Nokia Siap Eksplorasi Jaringan 6G di Indonesia

TAGGED: bursa asia, harga minyak, harga minyak naik, IHSG, IHSG hari ini
Aurelia Tanu March 13, 2026 March 13, 2026
Previous Article Serangan Kapal di Selat Hormuz, Harga Minyak Kembali Naik
Next Article Pidato Pertama, Pemimpin Tertinggi Iran Perintahkan Selat Hormuz Tetap Ditutup
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Komplek CitraLand Gama City, Madison Avenue, Blok R6 No. 90, Deli Serdang, Sumatera Utara, Indonesia
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?