[Medan | 12 Maret 2026] Bursa saham Asia diperkirakan dibuka melemah pada perdagangan Kamis (12/3), melanjutkan volatilitas pasar global setelah kenaikan harga minyak kembali memicu kekhawatiran inflasi.
Kontrak berjangka indeks saham di Jepang, Australia, dan Hong Kong tercatat bergerak di zona merah pada awal perdagangan Asia. Sentimen negatif ini mengikuti pelemahan pasar saham Amerika Serikat, di mana indeks S&P 500 turun sekitar 0,1% pada Rabu, sementara Nasdaq-100 bergerak relatif stagnan.
Tekanan terhadap pasar ekuitas berlanjut setelah kontrak berjangka saham AS kembali melemah pada awal perdagangan Kamis pagi.
Harga Minyak Tetap Tinggi
Harga minyak mentah West Texas Intermediate kembali melampaui US$91 per barel, meskipun International Energy Agency (IEA) telah menyetujui pelepasan sekitar 400 juta barel cadangan minyak darurat, yang menjadi pelepasan terbesar sepanjang sejarah organisasi tersebut.
Selain itu, Jepang juga berencana melepas sekitar 80 juta barel minyak dari cadangan strategisnya untuk membantu menstabilkan pasar energi global.
Namun langkah tersebut belum mampu meredam kekhawatiran pasar terkait gangguan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah.
Pasar Obligasi Bereaksi Tajam
Reaksi pasar paling signifikan terlihat di pasar obligasi. Harga obligasi pemerintah Amerika Serikat turun secara luas, mendorong imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik sekitar 7 basis poin menjadi 4,23% pada Rabu.
Lonjakan imbal hasil tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran bahwa kenaikan harga energi dapat kembali memicu tekanan inflasi di berbagai sektor ekonomi.
Saat ini, pelaku pasar memperkirakan Federal Reserve kemungkinan hanya akan memangkas suku bunga satu kali sepanjang tahun ini, lebih sedikit dari ekspektasi sebelumnya.
Ekonom dari Morgan Stanley Wealth Management, Ellen Zentner, menilai ketidakpastian geopolitik membuat bank sentral AS cenderung berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan moneter.
Ketidakpastian Geopolitik
Presiden Donald Trump menyatakan bahwa pelepasan cadangan minyak besar-besaran yang disepakati oleh International Energy Agency diharapkan mampu meredakan tekanan harga energi, seiring dengan upaya militer AS dalam konflik melawan Iran.
Di sisi lain, sejumlah sumber menyebutkan bahwa Iran telah menyampaikan kepada mediator regional mengenai syarat untuk kemungkinan gencatan senjata, yakni jaminan bahwa Amerika Serikat dan Israel tidak akan kembali menyerang Iran di masa mendatang.
Secara terpisah, Trump juga mempertimbangkan penggunaan kewenangannya untuk membuka kembali produksi minyak di wilayah lepas pantai California Selatan guna menambah pasokan energi domestik.
Pergerakan Mata Uang dan Kebijakan Jepang
Di kawasan Asia, mata uang yen Jepang sempat melemah hingga mendekati 159 per dolar AS, level terlemah sejak Januari, sebelum stabil kembali pada perdagangan Kamis pagi.
Bank sentral Bank of Japan diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan depan. Namun sebagian ekonom memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga acuan pada April mendatang.
Risiko Inflasi Masih Tinggi
Meskipun inflasi inti di Amerika Serikat sempat melambat pada Februari sebelum konflik pecah, guncangan harga energi akibat perang berpotensi kembali meningkatkan tekanan inflasi dalam beberapa bulan ke depan.
Ekonom dari Annex Wealth Management, Brian Jacobsen, menyatakan bahwa data inflasi sebelumnya sebenarnya menunjukkan tren perbaikan sebelum ketegangan geopolitik meningkat.
Sementara itu, ekonom Principal Asset Management, Seema Shah, menilai lonjakan harga energi biasanya dipandang sebagai faktor sementara oleh Federal Reserve.
Namun, dengan inflasi yang telah berada di atas target selama hampir lima tahun, bank sentral AS kemungkinan akan lebih berhati-hati dalam menganggap tekanan harga tersebut sebagai fenomena sementara.
Pasar kini menanti rilis data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), indikator inflasi utama bagi Federal Reserve, yang diperkirakan menunjukkan inflasi inti naik 0,4% secara bulanan dengan laju tahunan mencapai sekitar 3,1%.

