IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Bisnis

Harga Minyak Naik Lagi, Bursa Asia Bersiap Dibuka Melemah?

By Aurelia Tanu 2 hours ago Bisnis
Image source: AP/ liputan6.com
SHARE

[Medan | 12 Maret 2026] Bursa saham Asia diperkirakan dibuka melemah pada perdagangan Kamis (12/3), melanjutkan volatilitas pasar global setelah kenaikan harga minyak kembali memicu kekhawatiran inflasi.

Contents
Harga Minyak Tetap TinggiPasar Obligasi Bereaksi TajamKetidakpastian GeopolitikPergerakan Mata Uang dan Kebijakan JepangRisiko Inflasi Masih Tinggi

Kontrak berjangka indeks saham di Jepang, Australia, dan Hong Kong tercatat bergerak di zona merah pada awal perdagangan Asia. Sentimen negatif ini mengikuti pelemahan pasar saham Amerika Serikat, di mana indeks S&P 500 turun sekitar 0,1% pada Rabu, sementara Nasdaq-100 bergerak relatif stagnan.

Tekanan terhadap pasar ekuitas berlanjut setelah kontrak berjangka saham AS kembali melemah pada awal perdagangan Kamis pagi.

Harga Minyak Tetap Tinggi

Harga minyak mentah West Texas Intermediate kembali melampaui US$91 per barel, meskipun International Energy Agency (IEA) telah menyetujui pelepasan sekitar 400 juta barel cadangan minyak darurat, yang menjadi pelepasan terbesar sepanjang sejarah organisasi tersebut.

Selain itu, Jepang juga berencana melepas sekitar 80 juta barel minyak dari cadangan strategisnya untuk membantu menstabilkan pasar energi global.

Namun langkah tersebut belum mampu meredam kekhawatiran pasar terkait gangguan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah.

Pasar Obligasi Bereaksi Tajam

Reaksi pasar paling signifikan terlihat di pasar obligasi. Harga obligasi pemerintah Amerika Serikat turun secara luas, mendorong imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik sekitar 7 basis poin menjadi 4,23% pada Rabu.

Lonjakan imbal hasil tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran bahwa kenaikan harga energi dapat kembali memicu tekanan inflasi di berbagai sektor ekonomi.

Saat ini, pelaku pasar memperkirakan Federal Reserve kemungkinan hanya akan memangkas suku bunga satu kali sepanjang tahun ini, lebih sedikit dari ekspektasi sebelumnya.

Ekonom dari Morgan Stanley Wealth Management, Ellen Zentner, menilai ketidakpastian geopolitik membuat bank sentral AS cenderung berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan moneter.

Ketidakpastian Geopolitik

Presiden Donald Trump menyatakan bahwa pelepasan cadangan minyak besar-besaran yang disepakati oleh International Energy Agency diharapkan mampu meredakan tekanan harga energi, seiring dengan upaya militer AS dalam konflik melawan Iran.

Di sisi lain, sejumlah sumber menyebutkan bahwa Iran telah menyampaikan kepada mediator regional mengenai syarat untuk kemungkinan gencatan senjata, yakni jaminan bahwa Amerika Serikat dan Israel tidak akan kembali menyerang Iran di masa mendatang.

Secara terpisah, Trump juga mempertimbangkan penggunaan kewenangannya untuk membuka kembali produksi minyak di wilayah lepas pantai California Selatan guna menambah pasokan energi domestik.

Pergerakan Mata Uang dan Kebijakan Jepang

Di kawasan Asia, mata uang yen Jepang sempat melemah hingga mendekati 159 per dolar AS, level terlemah sejak Januari, sebelum stabil kembali pada perdagangan Kamis pagi.

Bank sentral Bank of Japan diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan depan. Namun sebagian ekonom memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga acuan pada April mendatang.

Risiko Inflasi Masih Tinggi

Meskipun inflasi inti di Amerika Serikat sempat melambat pada Februari sebelum konflik pecah, guncangan harga energi akibat perang berpotensi kembali meningkatkan tekanan inflasi dalam beberapa bulan ke depan.

Ekonom dari Annex Wealth Management, Brian Jacobsen, menyatakan bahwa data inflasi sebelumnya sebenarnya menunjukkan tren perbaikan sebelum ketegangan geopolitik meningkat.

Sementara itu, ekonom Principal Asset Management, Seema Shah, menilai lonjakan harga energi biasanya dipandang sebagai faktor sementara oleh Federal Reserve.

Namun, dengan inflasi yang telah berada di atas target selama hampir lima tahun, bank sentral AS kemungkinan akan lebih berhati-hati dalam menganggap tekanan harga tersebut sebagai fenomena sementara.

Pasar kini menanti rilis data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), indikator inflasi utama bagi Federal Reserve, yang diperkirakan menunjukkan inflasi inti naik 0,4% secara bulanan dengan laju tahunan mencapai sekitar 3,1%.

 

You Might Also Like

DSSA Bakal Stock Split 1:25, Harga Saham Bakal Turun ke Kisaran Rp 3.100?

Mau Garap Bisnis Soil Stabilization, SMGR Bakal Gandeng Taiheiyo Cement

WIFI dan Nokia Siap Eksplorasi Jaringan 6G di Indonesia

Trump Sebut Perang Akan Segera Berakhir, IHSG Siap Rebound?

Wall Street Anjlok Tertekan Kekhawatiran Inflasi, Bursa Asia Bakal Ikutan?

TAGGED: bursa asia, harga minyak, IHSG, IHSG hari ini
Aurelia Tanu March 12, 2026 March 12, 2026
Previous Article Trump Ancam Iran Jika Pasang Ranjau di Selat Hormuz
Next Article AS Bakal Lepas 172 Juta Barel Minyak Untuk Tekan Harga Minyak
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Komplek CitraLand Gama City, Madison Avenue, Blok R6 No. 90, Deli Serdang, Sumatera Utara, Indonesia
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?