[Medan | 30 Maret 2026] Eskalasi konflik Timur Tengah meningkat tajam setelah kelompok Houthi di Yaman, sekutu Iran, resmi terlibat dalam perang dengan meluncurkan serangan ke Israel. Perkembangan ini memicu tekanan signifikan di pasar global, ditandai dengan pelemahan bursa Asia, lonjakan harga minyak, serta kenaikan yield obligasi global.
Bursa saham Asia dibuka melemah pada awal pekan seiring eskalasi konflik Timur Tengah setelah kelompok Houthi resmi terlibat dalam perang Iran. Tekanan pasar terjadi di tengah lonjakan harga minyak Brent yang menembus US$115 per barel (+2% harian), penguatan dolar AS (+0,2%), serta kenaikan tajam yield obligasi global.
Kontrak berjangka (futures) indeks saham AS tercatat turun sekitar 0,6%, mencerminkan sentimen risk-off yang langsung ditransmisikan ke pasar Asia. Dalam beberapa sesi terakhir, tekanan global juga terlihat dari koreksi indeks utama, dengan S&P 500 turun 3,6% dalam dua hari dan Nasdaq 100 melemah 4,3%, membawa indeks ke wilayah koreksi (-10% dari puncak).
Eskalasi Multi-Front dan Risiko Sistemik
Keterlibatan Houthi memperluas konflik ke jalur strategis Laut Merah dan Bab el-Mandeb, setelah sebelumnya pasar sudah terguncang oleh gangguan di Selat Hormuz yang mengalirkan sekitar 20% pasokan energi global.
Di saat yang sama, Amerika Serikat di bawah Donald Trump meningkatkan kehadiran militer dengan tambahan ribuan pasukan, memperbesar probabilitas konflik berkepanjangan. Kombinasi ini meningkatkan tail risk terhadap sistem perdagangan global, khususnya energi dan logistik.
Lonjakan Energi Dorong Repricing Inflasi
Harga minyak yang bertahan di atas US$115/barel menjadi katalis utama perubahan ekspektasi pasar. Dalam skenario ekstrem, harga minyak diproyeksikan dapat mencapai US$200/barel jika konflik berlanjut hingga kuartal II, dengan probabilitas sekitar 40%.
Lonjakan ini mendorong revisi ekspektasi kebijakan moneter global. Pasar kini:
- Tidak lagi mengantisipasi pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini
- Mulai pricing kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan
- Mendorong yield US Treasury naik signifikan
Yield US Treasury kini berada dalam tren kenaikan tajam dan menuju kinerja bulanan terburuk sejak Oktober 2024, mencerminkan tekanan inflasi yang kembali meningkat.

