[Medan | 8 Januari 2025] Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat sejarah baru dengan menembus level psikologis 9.000 pada Kamis (8/1/2026). Meski sempat mencapai rekor tersebut di sesi pertama, IHSG akhirnya berbalik arah dan ditutup di zona merah pada 8.925,47, turun 19,34 poin atau 0,22%.
Sebanyak 380 saham melemah, 328 menguat, dan 250 stagnan. Nilai transaksi harian mencapai Rp 28,78 triliun, dengan 51,58 miliar saham diperdagangkan dalam 3,71 juta kali transaksi. Sektor bahan baku menjadi pemberat utama, turun 1,88%, terutama dari ANTM (-9,35%), MDKA, BRMS, AMMN, serta BBCA yang menyumbang -9,5 poin IHSG.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pencapaian ini sebagai bukti fundamental ekonomi Indonesia yang solid serta prospek pasar keuangan yang kuat. Ia optimistis IHSG berpotensi menembus 10.000 sepanjang 2026, didukung kebijakan pemerintah yang sinkron dan pertumbuhan ekonomi yang membaik.
Perjalanan IHSG menuju 9.000 cukup dinamis. Pasar sempat terpuruk ke level 5.800-an pada April 2025 akibat sentimen negatif global, termasuk ketakutan perang dagang dari Presiden AS Donald Trump. Namun, fundamental ekonomi Indonesia berhasil memulihkan kepercayaan investor, mendorong rebound signifikan hingga 9.000, naik 12,5% hanya dalam 146 hari sejak menyentuh 8.000 pada Agustus 2025.
Pemulihan ini diperkuat kebijakan fiskal pro-pertumbuhan yang dikenal sebagai “Purbaya Effect”. Langkah strategis seperti pengetatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam, pengaturan bea keluar emas dan batubara, serta pembatalan kenaikan cukai rokok, membantu memperkuat cadangan devisa dan menjaga daya beli masyarakat.
Optimisme investor meningkat seiring realisasi APBN 2025 yang solid dan derasnya arus masuk dana asing (foreign inflow). Selain itu, investor ritel domestik kini menguasai sekitar 50% transaksi harian, menjadi bantalan likuiditas saat asing sempat keluar awal tahun ini.
Sentimen global juga mulai melunak, dengan konsensus pasar memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga acuan dua kali tahun ini, membuka ruang aliran dana murah ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Namun, analis mengingatkan risiko masih ada, terutama ketegangan geopolitik di Taiwan dan China, yang bisa memicu koreksi sementara.
Dengan kombinasi faktor domestik dan global, IHSG berpotensi kembali naik, bahkan mendekati level 10.000, selama koreksi tidak menembus support penting di 8.775. Capaian hari ini menegaskan ketangguhan pasar saham Indonesia, ditopang kebijakan pro-growth, arus dana asing, dan peran ritel domestik, sekaligus menandai era optimisme baru bagi pasar modal domestik.
Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menambahkan bahwa lonjakan IHSG juga didorong optimisme pasar terhadap APBN 2025 dan arus masuk dana asing yang deras. Investor menilai valuasi saham Indonesia menarik, dengan prospek laba emiten yang menjanjikan dibandingkan negara emerging market lain.
Maximilianus Nico Demus dari Pilarmas Investindo Sekuritas menegaskan, walau IHSG telah melewati 9.000, potensi kenaikan ke 10.000 tetap ada. Koreksi wajar masih mungkin terjadi, dan level 8.775 menjadi support kunci untuk menjaga tren optimis pasar.

