[Medan | 28 Februari 2025] Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 1,83% ke level 6.485 pada akhir perdagangan hari Kamis (27/2/2025).
Dari 11 indeks sektoral, hanya sektor barang konsumen non-primer yang berhasil bertahan di zona hijau dengan kenaikan 0,19%. Sementara itu, sektor kesehatan mencatatkan pelemahan terbesar sebesar 2,29%, diikuti oleh sektor keuangan yang turun 1,67% dan sektor barang baku yang merosot 1,60%.
Tekanan terhadap IHSG dipicu oleh aksi jual investor asing yang terus berlanjut dalam tiga hari terakhir. Pada Senin (24/2), net sell asing mencapai Rp3,47 triliun, disusul Rp1,6 triliun pada Selasa (25/2), dan Rp323,56 miliar pada Rabu (26/2). Arus keluar dana asing ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap pasar keuangan Indonesia.
Morgan Stanley turut memperburuk sentimen pasar dengan menurunkan peringkat saham Indonesia dalam indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) dari equal-weight (EW) menjadi underweight (UW). Penurunan ini didasarkan pada prospek pertumbuhan ekonomi domestik yang diperkirakan melemah serta meningkatnya tekanan terhadap profitabilitas sektor-sektor siklikal.
Dari sisi global, kebijakan perdagangan Presiden AS Donald Trump turut menjadi faktor yang membebani pasar. Trump menegaskan bahwa tarif impor sebesar 25% terhadap Uni Eropa akan segera diberlakukan. Meski demikian, ia masih mempertimbangkan kemungkinan memperpanjang tenggat waktu hingga awal April untuk penerapan tarif serupa terhadap Kanada dan Meksiko, yang sebelumnya dijadwalkan berlaku mulai 2 Maret.
Selain itu, pasar juga mencermati perkembangan perundingan damai Rusia-Ukraina yang dipimpin oleh Trump. Ia mengonfirmasi bahwa Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy, akan berkunjung ke Washington pada Jumat (28/2/2025) guna menandatangani kesepakatan terkait mineral tanah jarang. Sementara itu, Zelenskiy menyatakan bahwa keberhasilan kesepakatan tersebut sangat bergantung pada hasil pembicaraan dan dukungan berkelanjutan dari AS.
Di dalam negeri, Presiden Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi yang ambisius sebesar 8% pada 2029. Target ini tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2025.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3% pada 2025, lebih tinggi dari asumsi dalam APBN 2025 yang sebesar 5,2%. Selanjutnya, ekonomi diproyeksikan tumbuh 6,3% pada 2026, meningkat menjadi 7,5% pada 2027, naik lagi ke 7,7% pada 2028, dan akhirnya mencapai 8% pada 2029.