IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Bisnis

Jelang Libur Panjang Lebaran, IHSG Bakal Kemana?

By Aurelia Tanu 2 hours ago Bisnis
Image source: AP/ money.kompas.com
SHARE

[Medan | 16 Maret 2026] Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan ini diperkirakan berlangsung terbatas seiring waktu perdagangan yang sangat singkat. Bursa Efek Indonesia hanya membuka perdagangan selama dua hari, yakni 16–17 Maret 2026, sebelum memasuki periode libur panjang Nyepi dan Lebaran pada 18–24 Maret. Bursa dijadwalkan kembali beroperasi pada 25 Maret 2026.

Contents
Tekanan Teknikal Masih TerbukaSentimen Global Masih Membayangi PasarSentimen DomestikInvestor Cenderung Ambil Untung

Kondisi tersebut membuat sebagian investor cenderung bersikap lebih berhati-hati dan memilih mengurangi eksposur risiko menjelang periode libur yang cukup panjang.

Tekanan Teknikal Masih Terbuka

Analis teknikal dari BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menilai IHSG masih berpotensi bergerak melemah setelah sebelumnya mengalami breakdown dari area support penting di level 7.250. Menurutnya, pelemahan lanjutan masih berpeluang membawa indeks menuju area support berikutnya di kisaran 7.000–7.100. 

Untuk pekan ini, level support IHSG diperkirakan berada pada kisaran 7.000–7.100, sementara resistance terdekat berada di area 7.300–7.400. Sementara itu, Head of Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memperkirakan pergerakan IHSG pada awal pekan masih rawan koreksi dengan support di level 7.071 dan resistance di 7.248.

Sentimen Global Masih Membayangi Pasar

Sentimen global tetap menjadi faktor utama yang mempengaruhi arah pasar. Ketegangan geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah memicu lonjakan harga energi global. Harga minyak jenis Brent Crude bahkan kembali menembus US$100 per barel, menyusul gangguan pasokan energi akibat penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi rute sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.

Lonjakan harga energi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi tekanan inflasi global, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi arah kebijakan moneter bank sentral dunia.

Pelaku pasar juga menunggu hasil pertemuan Federal Reserve pada 18 Maret, yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5%–3,75%. Namun investor tetap mencermati proyeksi ekonomi terbaru bank sentral tersebut, terutama untuk melihat bagaimana otoritas moneter AS menilai risiko inflasi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik. Di sisi lain, pasar juga memantau berbagai langkah kebijakan dari pemerintahan Donald Trump, yang berpotensi mempengaruhi arah perdagangan global maupun pasar energi.

Sentimen Domestik

Dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati perkembangan kebijakan fiskal pemerintah Indonesia di tengah kenaikan harga minyak global. Pemerintah saat ini masih mengkaji kemungkinan memperlebar batas defisit APBN di atas 3% untuk mengantisipasi dampak kenaikan harga energi terhadap beban fiskal.

Namun Presiden Prabowo Subianto menyatakan pemerintah lebih cenderung melakukan efisiensi dan penghematan anggaran, mengingat masih terdapat ruang untuk meningkatkan efektivitas belanja negara. 

Selain itu, pelaku pasar juga menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 17 Maret, yang secara luas diperkirakan akan mempertahankan BI Rate di level 4,75%.

Investor Cenderung Ambil Untung

Dengan waktu perdagangan yang terbatas serta tingginya ketidakpastian global, sebagian investor diperkirakan akan melakukan aksi taking profit menjelang periode libur panjang.

Libur bursa selama hampir satu minggu membuat pelaku pasar tidak dapat merespons secara langsung berbagai perkembangan global yang mungkin terjadi selama periode tersebut. Konflik geopolitik di Timur Tengah, pergerakan harga minyak, hingga potensi kebijakan baru dari pemerintahan Trump menjadi faktor risiko yang berpotensi memicu volatilitas ketika pasar kembali dibuka.

Dalam kondisi seperti ini, sebagian investor biasanya memilih merealisasikan sebagian keuntungan dan meningkatkan porsi kas sebagai langkah antisipasi terhadap potensi pergerakan pasar setelah libur panjang.

Di sisi lain, sektor berbasis komoditas diperkirakan relatif lebih bertahan, terutama perusahaan yang berkaitan dengan energi, batu bara, dan minyak sawit mentah (CPO) seiring kenaikan harga komoditas global.

 

 

You Might Also Like

BUMI Targetkan Tambang Tembaga dan Emas Wolfram Mulai Beroperasi Tahun Ini

BBCA Setujui Dividen Final Rp 281 per Saham, atau Setara 72% dari Laba 2025

Harga Minyak Kembali Tembus US$ 100 per Barel, Bursa Asia Bakal Melemah Lagi?

DSSA Bakal Stock Split 1:25, Harga Saham Bakal Turun ke Kisaran Rp 3.100?

Harga Minyak Naik Lagi, Bursa Asia Bersiap Dibuka Melemah?

TAGGED: bursa asia, IHSG, IHSG hari ini, libur lebaran, libur panjang ihsg
Aurelia Tanu March 16, 2026 March 16, 2026
Previous Article Trump Kembali Desak The Fed Untuk Segera Pangkas Suku Bunga
Next Article Pulau Kharg Iran Diserang, Harga Minyak Naik ke US$ 106 per Barel
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Komplek CitraLand Gama City, Madison Avenue, Blok R6 No. 90, Deli Serdang, Sumatera Utara, Indonesia
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?