[Medan | 29 Januari 2026] Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan tajam pada perdagangan Rabu (28/1/2026) dan ditutup melemah 8% ke level 8.261,79. Penurunan sebesar 718 poin tersebut memicu penghentian sementara perdagangan atau trading halt setelah indeks menembus ambang batas koreksi harian yang ditetapkan otoritas bursa. Tekanan jual terjadi secara merata, dengan mayoritas saham berada di zona merah dan hanya sebagian kecil saham yang mencatatkan penguatan.
Nilai transaksi tercatat sangat besar dan mencerminkan tingginya aktivitas panic selling di pasar. Total transaksi mencapai Rp31,92 triliun dengan volume 45,40 miliar saham yang diperdagangkan dalam hampir tiga juta kali transaksi. Kondisi ini menandakan aksi pelepasan aset yang agresif, khususnya oleh investor yang sensitif terhadap risiko global dan arus dana berbasis indeks.
Sentimen MSCI Tekan Pasar Saham
Pelemahan tajam IHSG dipicu oleh pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menyoroti masih lemahnya transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia. MSCI menilai bahwa meskipun terdapat perbaikan minor pada data free float dari Bursa Efek Indonesia, kekhawatiran investor global terhadap keandalan data kepemilikan saham masih tinggi. Hal tersebut mendorong MSCI untuk menerapkan perlakuan sementara terhadap sekuritas Indonesia guna memitigasi risiko investabilitas.
Dalam kebijakan tersebut, seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor dan penyesuaian jumlah saham dibekukan, termasuk penambahan saham baru ke dalam indeks MSCI Investable Market Indexes. Selain itu, migrasi saham antar segmen ukuran juga ditahan. Kondisi ini meningkatkan risiko penurunan bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets, bahkan membuka peluang reklasifikasi ke kategori frontier market apabila tidak ada perbaikan hingga Mei 2026.
Dampak ke Saham Perbankan dan Pasar Keuangan
Tekanan paling signifikan dirasakan oleh saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya sektor perbankan, yang selama ini menjadi konstituen utama indeks MSCI dan target alokasi investor institusi global. Saham bank besar mengalami koreksi tajam pada Rabu (28/1/2026) seiring kekhawatiran potensi outflow dana asing pasif maupun aktif. Saham-saham yang sebelumnya diuntungkan oleh narasi potensi masuk MSCI juga turut mengalami pembalikan arah secara signifikan.
Dari sisi pasar keuangan yang lebih luas, tekanan di pasar saham meningkatkan permintaan terhadap aset defensif. Nilai tukar rupiah relatif tertahan dengan kecenderungan stabil, didukung oleh pernyataan Bank Indonesia yang menilai rupiah masih berada di bawah nilai fundamentalnya. Stabilitas inflasi domestik dan prospek pertumbuhan ekonomi dinilai tetap menjadi penopang utama sentimen makro Indonesia.

