[Medan | 25 Maret 2026] Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak volatil dengan kecenderungan melanjutkan koreksi pada perdagangan Rabu (25/3/2026), seiring akumulasi sentimen global selama periode libur Lebaran. Indeks diproyeksikan bergerak dalam rentang 6.745–6.887, meskipun peluang technical rebound tetap terbuka dalam jangka pendek.
Tekanan Global Membayangi Pergerakan Awal
Pasca libur panjang, pelaku pasar dihadapkan pada penyesuaian terhadap dinamika global yang berkembang signifikan, terutama kenaikan yield US Treasury, penguatan dolar AS, serta lonjakan harga minyak akibat konflik Amerika Serikat–Iran. Kondisi ini meningkatkan risiko capital outflow dari pasar emerging markets, termasuk Indonesia, dan menekan valuasi aset berisiko.
Selain itu, ekspektasi suku bunga global yang tetap tinggi (higher for longer) memperburuk sentimen, karena meningkatkan cost of capital dan menekan minat investor terhadap saham, khususnya di sektor yang sensitif terhadap suku bunga.
Teknikal: Ruang Koreksi Masih Terbuka
Secara teknikal, IHSG masih berada dalam fase koreksi lanjutan, dengan potensi menguji area support di kisaran 6.991–6.843. Struktur pergerakan menunjukkan indeks masih berada dalam fase akhir koreksi (wave (v)), sehingga risiko pelemahan jangka pendek masih perlu diwaspadai.
Di sisi lain, area resistance berada pada kisaran 7.156–7.239. Level ini menjadi batas atas penguatan apabila terjadi rebound teknikal dalam waktu dekat.
Efek Musiman Lebaran: Rebound Tapi Terbatas
Secara historis, IHSG cenderung mengalami pelemahan menjelang libur panjang akibat aksi profit taking dan sikap wait and see investor. Setelah libur berakhir, aliran dana berpotensi kembali masuk ke pasar dan mendorong technical rebound.
Namun, dalam kondisi saat ini, potensi penguatan diperkirakan terbatas. Hal ini disebabkan oleh dominasi sentimen eksternal, termasuk arah kebijakan The Federal Reserve, volatilitas harga energi, dan ketidakpastian geopolitik global.
Volatilitas Tinggi di Awal Sesi
Pasar juga berpotensi mengalami gap down di awal perdagangan sebagai bentuk penyesuaian terhadap sentimen global selama periode libur. Volatilitas diperkirakan tetap tinggi, terutama pada sesi awal, sebelum pasar menemukan keseimbangan baru.

