[Medan | 13 Februari 2026] PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) resmi memulai pilot project pengembangan hidrogen hijau di Ulubelu. Proyek ini menjadi bagian dari strategi PGEO mengembangkan produk turunan panas bumi di luar bisnis kelistrikan konvensional, sejalan dengan tren transisi energi dan penguatan portofolio energi hijau.
Skala Proyek Masih Uji Coba
PGEO mengalokasikan dana sekitar US$3 juta untuk proyek percontohan ini. Saat ini, proyek masih bersifat non-komersial dan difokuskan pada pengujian teknologi, aspek keselamatan operasional, serta pematangan model bisnis. Fasilitas hidrogen hijau tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV-2026 dengan kapasitas produksi sekitar 80–100 kg per hari, menggunakan listrik berbasis panas bumi sebagai sumber energi utama.
Dampak Jangka Pendek Terbatas
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menilai karena masih berstatus pilot project, kontribusi finansial proyek hidrogen hijau terhadap kinerja PGEO pada 2026 diperkirakan belum signifikan. Namun demikian, proyek ini dinilai strategis sebagai fondasi diversifikasi pendapatan jangka panjang, khususnya dari segmen non-kelistrikan.
Tantangan Ekosistem dan Keekonomian
Risiko utama proyek hidrogen hijau terletak pada belum matangnya ekosistem hidrogen di Indonesia. Hingga saat ini, pasar domestik masih minim offtaker yang siap menyerap produksi hidrogen hijau. Selain itu, keekonomian proyek sangat bergantung pada insentif harga karbon, regulasi, serta kesiapan infrastruktur pendukung yang masih berada pada tahap awal pengembangan.
Potensi Dampak Jangka Menengah
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai dampak yang lebih berarti dari proyek ini baru berpotensi terlihat mulai 2027, dengan asumsi pilot project berjalan sukses dan PGEO mampu menemukan skema komersialisasi yang menarik. Hidrogen hijau dinilai dapat menjadi sarana PGEO memaksimalkan pemanfaatan panas bumi untuk kebutuhan industri non-listrik.
Prospek Saham dan Rekomendasi
Secara keseluruhan, prospek PGEO dinilai tetap solid ditopang oleh kapasitas panas bumi terpasang yang optimal dan karakter pendapatan yang stabil (recurring income). Mirae Asset merekomendasikan add saham PGEO dengan target harga Rp1.305 per saham, sementara KISI merekomendasikan buy dengan target harga Rp1.250 per saham.

