[Medan | 28 Februari 2025] Harga saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) terpantau menguat 8,71% ke level Rp 1.310 per saham pada akhir perdagangan hari Kamis (27/2/2025). Bahkan, di awal sesi, saham AKRA sempat melonjak 9,09% ke level Rp 1.330.
Lonjakan ini dikaitkan dengan mencuatnya kasus dugaan manipulasi bahan bakar Pertalite menjadi Pertamax yang melibatkan Pertamina. Kepercayaan publik yang terguncang akibat kasus ini berpotensi mendorong konsumen untuk mencari alternatif penyedia bahan bakar, membuka peluang bagi AKRA dan BP untuk memperluas pangsa pasar mereka.
Sejak 5 April 2017, AKRA telah menjalin kerja sama dengan BP dalam bentuk usaha patungan yang dikenal sebagai PT Aneka Petroindo Raya. Perjanjian ini ditandatangani di London oleh Richard Harding, Wakil Presiden Pengembangan Komersial BP Downstream, dan Haryanto Adikoesomo, Direktur Utama AKRA.
Melalui kemitraan ini, kedua perusahaan bertujuan mengembangkan serta menawarkan layanan bahan bakar dengan pendekatan yang berbeda, memanfaatkan keahlian masing-masing di pasar ritel Indonesia.
Sementara itu, Kejaksaan Agung (Kejagung) kembali menetapkan dua tersangka baru dalam kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang PT Pertamina (Persero). Dengan tambahan ini, total tersangka kini mencapai sembilan orang. Dua nama yang baru ditetapkan sebagai tersangka adalah Maya Kusmaya (MK), Direktur Pemasaran Pusat dan Niaga PT Pertamina Patra Niaga, serta Edward Corne (EC), VP Trading Operation PT Pertamina Patra Niaga.
Di sisi lain, aksi korporasi juga turut mewarnai pergerakan saham AKRA. Presiden Komisaris AKR Corporindo, Soegiarto Adikoesoemo, diketahui membeli 916 juta saham perseroan pada harga Rp 1.115 per saham pada 17 Februari 2025. Total transaksi ini mencapai Rp 1,02 miliar, sehingga kepemilikan Soegiarto di AKRA bertambah menjadi 129.671.500 saham atau setara 0,646% secara langsung.