[Medan | 6 Maret 2026] Bursa saham Asia diperkirakan dibuka di zona merah pada perdagangan Jumat (6/3), mengikuti penurunan tajam di pasar saham dan obligasi Amerika Serikat (AS). Volatilitas pasar meningkat seiring ketegangan di Timur Tengah yang mendorong harga minyak melonjak dan menguatnya dolar AS.
Indeks berjangka untuk Jepang, Australia, Hong Kong, dan Korea Selatan diperdagangkan lebih rendah, meniru tren negatif di Wall Street. Indeks S&P 500 turun 0,6%, di mana hampir seluruh sektor melemah kecuali energi, teknologi, dan konsumsi primer. Nasdaq 100 yang padat saham teknologi terkoreksi 0,3%.
Meskipun demikian, beberapa saham semikonduktor mencatat kenaikan tipis. Nvidia Corp naik meski indeks saham chip turun 1,2%, dipicu laporan bahwa pemerintah AS mempertimbangkan kebijakan izin khusus untuk penjualan cip kecerdasan buatan (AI). Sektor semikonduktor diprediksi tetap menjadi fokus utama di Asia, terutama Korea Selatan, yang sebelumnya mencatat lonjakan saham chip akibat investasi besar-besaran pada AI.
Konflik AS-Israel versus Iran menambah tekanan pasar energi global. Harga minyak mentah AS mendekati US$81 per barel akibat kekhawatiran gangguan pasokan di Selat Hormuz. China, sebagai importir utama, mulai menahan konsumsi bahan bakar, memperkuat risiko inflasi global.
Menurut Marco Oviedo, strategi senior di XP Investimentos, durasi konflik menjadi faktor krusial. “Kemungkinan bahwa perang ini tidak berlangsung lama tetap menjadi skenario dasar, namun penolakan Iran untuk mundur membuat situasi tetap tegang,” ujarnya.
Gelombang baru serangan rudal dan drone Iran menyasar Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, dan Kuwait. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan negaranya tidak berniat menegosiasikan gencatan senjata. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menegaskan keterlibatan dalam proses pemilihan pemimpin baru Iran, menurut laporan media.
Lonjakan harga minyak mendorong risiko korelasi negatif antara saham dan obligasi. Morgan Stanley menilai, jika kenaikan harga minyak memicu inflasi tinggi sekaligus menurunkan pertumbuhan ekonomi, saham dan obligasi bisa mengalami koreksi bersamaan, mirip kondisi 2021–2023.
Pasar obligasi global menunjukkan aksi jual berkelanjutan. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik empat basis poin menjadi 4,14%. Dolar AS menguat 0,4% sementara yen melemah.
Menjelang rilis laporan ketenagakerjaan AS Jumat ini, klaim pengangguran tercatat rendah, menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang relatif stabil. Tim JPMorgan Chase Market Intelligence memperingatkan, angka tenaga kerja yang kuat akan mendorong ekspektasi inflasi akibat harga energi, sementara angka lebih lemah bisa meningkatkan harapan pemangkasan suku bunga, tetapi risiko stagflasi jangka pendek tetap ada.

