[Medan | 5 Februari 2026] Pasar saham Indonesia diperkirakan bergerak hati-hati menjelang rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 yang akan diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini, Kamis (5/2/2026). Konsensus pasar memperkirakan pertumbuhan ekonomi mengalami akselerasi dibanding kuartal sebelumnya, ditopang oleh belanja pemerintah dan konsumsi masyarakat selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Berdasarkan konsensus 13 institusi yang dihimpun CNBC Indonesia, pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 diperkirakan mencapai 5,23% secara tahunan (yoy) dan 0,72% secara kuartalan (qoq). Angka ini lebih tinggi dibanding realisasi kuartal III-2025 yang sebesar 5,04% yoy.
Secara setahun penuh, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia 2025 diproyeksikan berada di 5,07%, sedikit di atas realisasi 2024 sebesar 5,03%, namun masih di bawah target pemerintah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2025 sebesar 5,2%, sementara Bank Indonesia memperkirakan berada di kisaran 4,7–5,5%.
Konsumsi dan Belanja Pemerintah Jadi Penopang Utama
Ekonom Maybank, Myrdal Gunarto, menilai dorongan pertumbuhan pada kuartal IV-2025 relatif merata. Konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah menguat, investasi domestik tetap solid, sementara kontribusi net ekspor masih positif meski terbatas.
Momentum Nataru menjadi katalis utama konsumsi. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tercatat berada di level optimis sepanjang kuartal IV-2025, dengan posisi 121,2 pada Oktober, naik ke 124,0 pada November, dan tetap tinggi di 123,5 pada Desember.
Bank Mandiri memperkirakan konsumsi rumah tangga tumbuh 5,0% yoy pada kuartal IV-2025, didukung aktivitas ritel yang lebih kuat serta stimulus fiskal pemerintah. Konsumsi rumah tangga sendiri masih menjadi kontributor terbesar PDB, dengan porsi sekitar 53–54%.
Dari sisi fiskal, belanja pemerintah diperkirakan meningkat 8,0% yoy pada kuartal IV-2025, lebih tinggi dibanding kuartal sebelumnya. Lonjakan terjadi pada belanja pegawai, belanja modal, dan bantuan sosial, seiring akselerasi penyerapan anggaran di akhir tahun serta stimulus fiskal sebesar Rp37,4 triliun.
Indikator Aktivitas Ekonomi Menguat
Sejumlah indikator aktivitas ekonomi turut mengonfirmasi penguatan ekonomi di akhir 2025. Indeks Penjualan Riil (IPR) Desember 2025 diperkirakan tumbuh 4,3% yoy, dengan rata-rata kuartal IV-2025 mencapai 4,9%, lebih tinggi dibanding kuartal III-2025.
Aktivitas manufaktur juga bertahan di zona ekspansif. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur berada di atas level 50 sepanjang kuartal IV-2025, dengan rata-rata 51,9, mengindikasikan dunia usaha masih berada dalam fase ekspansi.
Dari sisi investasi, realisasi penanaman modal kuartal IV-2025 mencapai Rp496,9 triliun, naik 9,7% yoy. Porsi penanaman modal asing (PMA) mencapai 51,6%, sementara investasi domestik tumbuh lebih tinggi secara tahunan. Investasi tersebut juga menyerap lebih dari 750 ribu tenaga kerja baru.
Sektor otomotif turut mencerminkan penguatan ekonomi. Penjualan mobil kuartal IV-2025 melonjak lebih dari 30% secara kuartalan, dengan Desember menjadi bulan penjualan tertinggi sepanjang tahun.
Dampak ke IHSG: Positif, Tapi Belum Jadi Katalis Kuat
Meski data pertumbuhan ekonomi diperkirakan membaik, dampaknya terhadap IHSG cenderung positif terbatas. Pasar sudah mengantisipasi perbaikan ekonomi kuartal IV-2025, sehingga ruang kejutan dari data PDB relatif sempit.
Dalam jangka pendek, pergerakan IHSG masih akan lebih dipengaruhi oleh faktor lain, seperti stabilitas nilai tukar rupiah, arah kebijakan Bank Indonesia, serta sentimen global pasca-gejolak pasar akibat isu MSCI. Data ekonomi yang solid berperan sebagai penopang sentimen, bukan katalis utama reli.
Dengan kondisi tersebut, IHSG berpeluang bergerak konsolidatif dengan bias menguat, selama data PDB rilis sesuai atau sedikit di atas ekspektasi. Namun, reli lanjutan tetap membutuhkan konfirmasi dari stabilitas rupiah dan meredanya arus keluar dana asing.

