[Medan | 2 April 2026] Amerika Serikat mulai memberi sinyal akan meninjau ulang hubungan strategis dengan NATO pasca perang Iran. Pernyataan ini disampaikan oleh Marco Rubio yang menilai minimnya dukungan aliansi selama konflik sebagai hal yang mengecewakan, khususnya terkait penolakan akses pangkalan militer oleh sejumlah negara anggota.
Kekecewaan AS & Retorika Trump
Sikap ini mempertegas ketegangan yang sebelumnya juga disuarakan oleh Donald Trump, yang secara terbuka mengkritik NATO dan mempertanyakan relevansi aliansi tersebut. AS menilai hubungan yang selama ini berjalan cenderung tidak seimbang, di mana Washington menjadi penopang utama pertahanan Eropa, namun tidak mendapatkan dukungan yang setara saat menghadapi konflik di Timur Tengah.
Implikasi Geopolitik & Energi
Ketegangan ini muncul di tengah konflik Iran yang telah mengganggu jalur vital energi global, khususnya Selat Hormuz. Penolakan negara-negara NATO untuk terlibat langsung dalam pembukaan jalur tersebut memperbesar tekanan terhadap pasokan energi, yang sebelumnya sempat mendorong lonjakan harga minyak dan meningkatkan volatilitas pasar global.
Risiko Fragmentasi Global
Potensi peninjauan ulang hubungan AS–NATO membuka risiko fragmentasi geopolitik yang lebih luas. Jika hubungan ini melemah, koordinasi keamanan global dapat terganggu dan meningkatkan ketidakpastian, baik dari sisi militer maupun ekonomi. Hal ini juga dapat berdampak pada stabilitas kawasan Eropa serta memperbesar premi risiko di pasar keuangan global.

