[Medan | 12 Maret 2026] Pemerintah Amerika Serikat berencana melepas 172 juta barel minyak dari Strategic Petroleum Reserve (SPR) sebagai bagian dari upaya global untuk meredam lonjakan harga energi di tengah konflik dengan Iran.
Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan bahwa pelepasan cadangan minyak tersebut diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 120 hari hingga seluruh volume dapat tersalurkan ke pasar.
Langkah ini merupakan bagian dari rencana lebih luas yang dikoordinasikan oleh International Energy Agency (IEA) untuk menyuntikkan sekitar 400 juta barel minyak ke pasar global guna menstabilkan harga energi.
Menurut Wright, pelepasan cadangan ini ditujukan untuk menjaga pasokan energi global selama gangguan distribusi minyak masih berlangsung akibat konflik di Timur Tengah.
Dampak Perang terhadap Pasokan Minyak
Harga minyak mentah, bensin, diesel, hingga bahan bakar jet melonjak tajam sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Konflik tersebut menyebabkan lalu lintas kapal di Selat Hormuz terhenti. Jalur pelayaran ini sangat krusial karena dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Pemerintah AS berharap jalur pelayaran di Selat Hormuz dapat kembali normal dalam beberapa minggu ke depan seiring perkembangan situasi keamanan di kawasan tersebut.
Kondisi Cadangan Minyak AS
Saat ini, Strategic Petroleum Reserve menyimpan sekitar 415 juta barel minyak, atau sekitar 60% dari kapasitas totalnya yang mencapai 713,5 juta barel.
Cadangan tersebut sempat berkurang signifikan setelah pemerintahan sebelumnya melepas sekitar 180 juta barel pada tahun 2022 untuk menekan lonjakan harga bensin setelah invasi Rusia ke Ukraina.
Cadangan strategis ini pertama kali dibentuk setelah krisis embargo minyak Arab pada 1970-an, dengan fasilitas penyimpanan yang berada di gua-gua garam di sepanjang pesisir Teluk Amerika Serikat.
Pasar Tetap Mengkhawatirkan Gangguan Pasokan
Meskipun rencana pelepasan cadangan diumumkan, harga kontrak berjangka minyak mentah AS justru melonjak sekitar 4,1% setelah pengumuman tersebut.
Para analis menilai kenaikan harga masih sulit dihindari mengingat besarnya gangguan pasokan global akibat konflik di Timur Tengah.
Firma konsultan energi ClearView Energy Partners menilai rencana pelepasan cadangan oleh negara-negara anggota International Energy Agency merupakan indikasi bahwa krisis energi akibat gangguan di Selat Hormuz telah mencapai tingkat yang sangat serius.
Menurut lembaga tersebut, ancaman seperti ranjau laut dan senjata anti-kapal masih dapat menghambat pembukaan kembali jalur pelayaran di kawasan tersebut.
Tekanan Politik Menjelang Pemilu
Keputusan pelepasan cadangan minyak ini juga muncul di tengah meningkatnya tekanan politik terhadap Presiden Donald Trump, yang menghadapi tantangan untuk mengendalikan lonjakan harga bahan bakar domestik.
Kenaikan biaya energi menjadi isu penting menjelang pemilu paruh waktu di Amerika Serikat pada November mendatang, yang berpotensi dipengaruhi oleh persepsi publik terhadap kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat.
Secara teknis, Strategic Petroleum Reserve memiliki kapasitas untuk melepas sekitar 4,4 juta barel per hari. Namun analisis U.S. Department of Energy menunjukkan kapasitas riil pelepasan kemungkinan berada di kisaran 1,4 juta hingga 2,1 juta barel per hari, tergantung kondisi operasional fasilitas penyimpanan.
Sebagai perbandingan, pelepasan cadangan pada tahun 2022 hanya mampu mencapai sekitar 1,1 juta barel per hari, jauh di bawah kapasitas teoritis sistem tersebut.

