[Medan | 13 Februari 2026] Pemerintah Amerika Serikat dan Taiwan resmi menuntaskan perjanjian perdagangan timbal balik yang menetapkan tarif impor AS atas barang-barang asal Taiwan sebesar 15%. Angka ini lebih rendah dibanding tarif awal 20% yang sebelumnya diberlakukan oleh pemerintahan Donald Trump, sekaligus menempatkan Taiwan sejajar dengan Korea Selatan dan Jepang dalam struktur tarif AS.
Taiwan Wajib Turunkan Tarif Produk AS
Sebagai imbal balik, Taiwan diwajibkan mengikuti jadwal penghapusan atau penurunan tarif untuk hampir seluruh produk asal AS. Dalam kesepakatan ini, tarif Taiwan yang sempat mencapai 26% akan dihapus secara bertahap, terutama untuk produk pertanian seperti daging sapi, produk susu, jagung, dan komoditas pangan lainnya.
Komitmen Pembelian Jumbo Hingga 2029
Dokumen perjanjian juga mewajibkan Taiwan meningkatkan pembelian barang-barang AS secara signifikan sepanjang 2025–2029. Komitmen tersebut mencakup pembelian LNG dan minyak mentah senilai US$44,4 miliar, pesawat dan mesin sipil US$15,2 miliar, peralatan jaringan listrik dan generator US$25,2 miliar, serta peralatan kelautan dan kebutuhan industri baja.
Perlindungan Industri Strategis
Kesepakatan ini memperjelas ketentuan teknis dari perjanjian awal yang dicapai pada Januari lalu, termasuk pemangkasan tarif sektor semikonduktor—industri andalan Taiwan—ke level 15%. Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga daya saing Taiwan sekaligus memperkuat ketahanan rantai pasok teknologi tinggi AS.
Dampak ke Ekspor dan Rantai Pasok AS
Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer menilai perjanjian ini akan membuka peluang ekspor lebih luas bagi petani, nelayan, hingga produsen AS. Selain itu, kerja sama ini disebut akan meningkatkan ketahanan rantai pasok AS, khususnya di sektor teknologi strategis dan energi.
Implikasi Global
Kesepakatan AS–Taiwan ini mempertegas strategi Washington untuk memperkuat aliansi dagang di Asia sekaligus menyeimbangkan pengaruh China di rantai pasok global, terutama pada sektor energi dan teknologi tinggi.

