[Medan | 9 Januari 2026] Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengindikasikan target produksi batubara nasional dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 akan dipangkas ke kisaran 600 juta ton. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan realisasi produksi 2025 yang mencapai 790 juta ton dan target tahun sebelumnya yang berada di atas 730 juta ton.
Pemangkasan ini masih dalam tahap perhitungan internal Kementerian ESDM, namun arah kebijakan tersebut mencerminkan upaya pemerintah untuk menyesuaikan suplai dengan kondisi permintaan global yang melemah, khususnya dari pasar ekspor. Pemerintah juga berharap langkah ini dapat membantu menopang harga batubara internasional yang tertekan akibat kelebihan pasokan dalam beberapa tahun terakhir.
Kondisi Produksi dan Ekspor Batubara
Sepanjang 2025, produksi batubara nasional tercatat turun sekitar 5,5% dibandingkan tahun sebelumnya, meski masih melampaui target resmi. Dari total produksi tersebut, sekitar 65% disalurkan ke pasar ekspor, sementara sekitar 32% dialokasikan untuk kebutuhan domestik melalui skema Domestic Market Obligation (DMO). Melemahnya kinerja ekspor menjadi salah satu pertimbangan utama pemerintah dalam mengevaluasi dan memangkas target produksi tahun depan.
Sinyal penyesuaian produksi juga sebelumnya telah disampaikan oleh Direktorat Jenderal Minerba, yang menyebut target 2026 berpotensi berada di bawah 700 juta ton, bahkan mendekati 600 juta ton, seiring evaluasi RKAB perusahaan tambang dan tren permintaan global.
Dampak ke Saham Batubara
Bagi pasar saham, kebijakan pemangkasan produksi ini cenderung dipersepsikan sebagai sentimen positif bersyarat untuk emiten batubara. Penurunan suplai berpotensi menjaga harga batubara agar tidak jatuh terlalu dalam, terutama jika permintaan global mulai stabil. Emiten dengan struktur biaya rendah dan orientasi ekspor yang kuat berpeluang memperoleh manfaat lebih besar dari kebijakan ini.
Meskipun begitu, pasar juga akan mencermati dampak pemangkasan produksi terhadap volume penjualan dan pendapatan emiten. Saham batubara berpotensi bergerak selektif, dengan investor lebih memfavoritkan emiten yang memiliki kontrak jangka panjang, diversifikasi pasar ekspor, serta neraca keuangan yang solid.

