[Medan | 21 Januari 2026] Konsensus ekonom memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuan pada level 4,75% dalam pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Januari 2026 yang dijadwalkan hari ini. Survei Bloomberg menunjukkan semua ekonom yang disurvei, yakni 30 dari 30 responden, memproyeksikan BI tidak akan mengubah suku bunga pada awal tahun ini.
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, menilai keputusan menahan suku bunga merupakan langkah paling realistis di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang masih cukup kuat dan sensitivitas pasar terhadap isu kesinambungan fiskal. Ia menilai stabilitas nilai tukar serta pengelolaan ekspektasi inflasi masih menjadi fokus utama otoritas moneter dalam jangka pendek.
Menurut Josua, kondisi permintaan domestik belum menunjukkan urgensi untuk mendapatkan stimulus moneter melalui pemangkasan suku bunga. Indikator ekonomi riil masih berada dalam zona aman, sehingga belum ada alasan kuat untuk menurunkan BI Rate saat ini.
Ia merinci bahwa Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Desember 2025 masih berada di zona optimis pada level 123,5, didukung oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) sebesar 111,4 dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) sebesar 135,6. Aktivitas sektor riil juga terlihat positif, tercermin dari pertumbuhan penjualan eceran pada November yang naik 6,3% secara tahunan, serta ekspansi pada sektor industri pengolahan dengan PMI BI kuartal IV/2025 di level 51,86.
Dari sisi dunia usaha, kondisi tetap terjaga dengan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) triwulan IV/2025 berada di 10,61 dan diperkirakan meningkat menjadi 12,93 pada triwulan I/2026. Hal ini memperkuat argumen bahwa stimulus moneter melalui pemangkasan suku bunga belum mendesak.
Meski ruang pemangkasan suku bunga dinilai masih terbatas, Josua menyarankan BI dapat mempertimbangkan pelonggaran likuiditas dan penurunan biaya dana jangka pendek sebagai alternatif untuk mendukung pertumbuhan dan penyaluran kredit, tanpa harus menurunkan BI Rate.

