[Medan | 16 Maret 2026] Sejumlah bank sentral utama dunia dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan moneter pada pekan ini. Investor global akan mencermati keputusan suku bunga dari Bank Indonesia, Federal Reserve, dan Bank of Japan, yang berlangsung secara berurutan pada pertengahan Maret.
Bank Indonesia dijadwalkan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 17–18 Maret 2026, diikuti pertemuan kebijakan Federal Reserve pada 17–18 Maret, sementara Bank of Japan akan mengumumkan keputusan kebijakan moneternya pada 19 Maret 2026.
Di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah serta lonjakan harga energi, ketiga bank sentral tersebut diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan kali ini.
Bank Indonesia Fokus Menjaga Stabilitas Rupiah
Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan BI-Rate di level 4,75% pada RDG bulan Maret. Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai langkah tersebut sejalan dengan prioritas bank sentral yang saat ini berfokus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.
Menurutnya, tekanan terhadap rupiah masih cukup kuat akibat berbagai faktor eksternal, termasuk lonjakan harga energi global dan kehati-hatian investor terhadap aset negara berkembang.
Berdasarkan data kurs referensi BI, nilai tukar rupiah tercatat berada di sekitar Rp16.934 per dolar AS pada 13 Maret, setelah sebelumnya sempat menyentuh Rp16.974 per dolar AS pada 9 Maret.
Tekanan terhadap nilai tukar tersebut juga dipicu lonjakan harga minyak global. Harga Brent Crude tercatat berada di kisaran US$103 per barel, jauh di atas asumsi harga minyak dalam APBN 2026 yang ditetapkan sebesar US$70 per barel dengan asumsi nilai tukar Rp16.500 per dolar AS.
Dalam menjaga stabilitas rupiah, Bank Indonesia tidak hanya mengandalkan suku bunga, tetapi juga melakukan intervensi di pasar valuta asing domestik maupun luar negeri, pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder, serta pengelolaan likuiditas di sistem keuangan. Hingga 18 Februari 2026, BI tercatat telah membeli SBN sekitar Rp39,92 triliun sebagai bagian dari langkah stabilisasi pasar keuangan.
Josua memperkirakan nilai tukar rupiah dalam jangka pendek masih akan bergerak fluktuatif di kisaran Rp16.850 hingga Rp17.050 per dolar AS, dengan kemungkinan sesekali menembus level Rp17.000 apabila harga minyak tetap tinggi atau ketegangan geopolitik meningkat.
The Fed Hadapi Dilema Inflasi dan Pertumbuhan
Sementara itu, Federal Reserve juga diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan 17–18 Maret 2026. Bank sentral AS tersebut menghadapi dilema kebijakan akibat lonjakan harga energi yang berpotensi meningkatkan inflasi, sekaligus risiko perlambatan ekonomi akibat ketidakpastian geopolitik.
Kepala ekonom EY-Parthenon, Gregory Daco, mengatakan bahwa lonjakan harga energi merupakan jenis guncangan pasokan yang sulit ditangani oleh kebijakan moneter. Kondisi tersebut dapat mendorong inflasi meningkat sekaligus menekan pertumbuhan ekonomi.
Inflasi di Amerika Serikat memang telah turun dari puncaknya sebesar 9,1% pada masa pandemi, namun masih berada di atas target jangka panjang 2% yang ditetapkan Federal Reserve.
Kepala ekonom KPMG, Diane Swonk, menilai bahwa jika konflik dengan Iran berlangsung lebih lama, inflasi AS bahkan berpotensi kembali meningkat hingga di atas 4%.
Tekanan terhadap ekonomi juga mulai terlihat dari pasar tenaga kerja. Data terbaru menunjukkan ekonomi AS kehilangan sekitar 92.000 pekerjaan pada Februari, sementara tingkat pengangguran meningkat menjadi 4,4%.
Situasi tersebut membuat sebagian pembuat kebijakan Federal Reserve kemungkinan akan mengambil sikap yang lebih berhati-hati terhadap inflasi.
Bank of Japan Masih Menunggu Waktu untuk Kenaikan Suku Bunga
Di Asia, Bank of Japan juga diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya pada 0,75% dalam pertemuan 19 Maret 2026. Berdasarkan survei Reuters terhadap 64 ekonom, seluruh responden memperkirakan bank sentral Jepang belum akan mengubah suku bunga pada pertemuan bulan ini.
Namun sebagian besar ekonom memperkirakan Bank of Japan berpotensi menaikkan suku bunga menjadi 1% pada pertengahan 2026, seiring upaya bank sentral menormalkan kebijakan moneternya.
Konflik di Timur Tengah turut menambah tantangan bagi Jepang yang sangat bergantung pada impor energi dari kawasan tersebut. Lonjakan harga minyak global, ditambah pelemahan yen, telah meningkatkan biaya impor energi.
Sejak konflik di Timur Tengah memanas, nilai tukar yen tercatat melemah sekitar 1% terhadap dolar AS dan telah terdepresiasi lebih dari 6% dalam enam bulan terakhir.
Gubernur Bank of Japan, Kazuo Ueda, sebelumnya menegaskan bank sentral akan terus menaikkan suku bunga secara bertahap apabila proyeksi ekonomi tetap sesuai dengan perkiraan. Namun ia juga mengingatkan bahwa konflik geopolitik global berpotensi memberikan tekanan besar terhadap pertumbuhan ekonomi dunia.

