[Medan | 9 Februari 2026] Bank Rakyat China (People’s Bank of China/PBOC) kembali menambah kepemilikan emas pada Januari 2026, memperpanjang tren pembelian selama 15 bulan berturut-turut. Kepemilikan emas China tercatat naik menjadi 74,19 juta ons troi murni, dari 74,15 juta ons pada Desember 2025, menegaskan komitmen bank sentral dalam memperkuat aset cadangan non-dolar.
Nilai Cadangan Meningkat Tajam
Seiring kenaikan harga emas global, nilai cadangan emas China melonjak menjadi US$369,58 miliar pada akhir Januari, dari US$319,45 miliar pada bulan sebelumnya. Peningkatan ini mencerminkan peran emas sebagai instrumen diversifikasi cadangan devisa di tengah ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan moneter global.
Volatilitas Harga Emas Global
Harga emas sempat mencetak rekor mendekati US$5.600 per ons troi pada Januari akibat aksi beli spekulatif dan meningkatnya permintaan aset safe-haven. Namun, reli tersebut terhenti setelah penunjukan Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve berikutnya, yang memicu koreksi tajam hingga emas sempat jatuh ke US$4.403,24 per ons pada awal Februari. Saat ini, emas diperdagangkan di kisaran US$4.960 per ons troi.
Permintaan Domestik China Bergeser
Di sisi konsumsi, permintaan emas China turun 3,75% secara tahunan pada 2025 menjadi 950 metrik ton. Meski demikian, pembelian emas batangan dan koin melonjak 35,14% dan kini mencakup lebih dari separuh total konsumsi, menandakan pergeseran preferensi masyarakat ke aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi.
Strategi Jangka Panjang PBOC
PBOC sebelumnya sempat menghentikan pembelian emas selama 18 bulan hingga Mei 2024, sebelum kembali melanjutkan akumulasi enam bulan kemudian. Tren pembelian berkelanjutan ini memperkuat pandangan bahwa China tengah mengurangi ketergantungan pada aset berbasis dolar AS dan memperkokoh stabilitas cadangan devisa jangka panjang.

