[Medan | 6 Maret 2026] Pemerintah China menurunkan target pertumbuhan ekonomi tahun ini menjadi 4,5%–5%, lebih rendah dari realisasi 5% pada 2025, dan menjadi yang terendah sejak awal 1990-an. Penetapan ini disampaikan Perdana Menteri Li Qiang pada sidang pembukaan tahunan National People’s Congress, Kamis (5/3/2026).
Li mengakui ekonomi China menghadapi tekanan berat. Pemerintah ingin mendorong konsumsi domestik, namun tetap berfokus pada pengembangan teknologi strategis seperti kecerdasan buatan, robotika, dan sektor high-tech lainnya. Stimulus besar jangka pendek tidak diumumkan; pemerintah menekankan pemulihan permintaan secara bertahap.
Tekanan eksternal menambah kompleksitas. Ketegangan geopolitik global dan konflik Timur Tengah meningkatkan risiko terhadap impor energi China. Lonjakan harga minyak dan gas berpotensi menekan biaya produksi serta konsumsi domestik.
Masalah struktural di dalam negeri juga menjadi hambatan. Ketidakseimbangan antara kapasitas manufaktur yang tinggi dengan permintaan domestik yang lemah menekan pertumbuhan. Konsumsi rumah tangga lesu karena krisis properti dan pasar tenaga kerja yang terguncang, meski surplus perdagangan hampir US$ 1,2 triliun pada tahun lalu.
Pemerintah berencana menerbitkan obligasi senilai 250 miliar yuan untuk program insentif masyarakat menukar mobil, peralatan rumah tangga, dan barang lama. Kebijakan perumahan juga disesuaikan untuk menstabilkan pasar properti yang tertekan.
Di sisi lain, China tetap meningkatkan anggaran militer 7% menjadi sekitar 1,9 triliun yuan, seiring upaya reformasi militer dan penguatan kontrol Partai Komunis atas Tentara Pembebasan Rakyat.
Analis menilai pergeseran pertumbuhan dari ekspor dan investasi ke konsumsi domestik tidak akan terjadi secara instan. Tanpa perbaikan sektor properti, pasar tenaga kerja, dan jaminan sosial, daya beli rumah tangga China kemungkinan tetap terbatas dalam jangka dekat, sehingga target pertumbuhan 2026 menjadi realistis namun konservatif.

