[Medan | 17 Maret 2026] Badan energi global International Energy Agency (IEA) menyatakan negara-negara anggotanya masih memiliki ruang untuk melepaskan lebih banyak cadangan minyak ke pasar apabila gangguan pasokan energi global semakin memburuk akibat konflik geopolitik.
Pernyataan tersebut disampaikan Direktur Eksekutif International Energy Agency, Fatih Birol, pada Senin (16/3/2026), setelah sebelumnya negara-negara anggota IEA menyepakati pelepasan cadangan minyak terbesar dalam sejarah.
Menurut Birol, meskipun pelepasan cadangan yang dilakukan sangat besar, negara-negara anggota masih memiliki stok darurat dalam jumlah signifikan. Ia menjelaskan bahwa setelah program pelepasan cadangan ini selesai, total cadangan minyak darurat yang dimiliki negara anggota IEA hanya akan berkurang sekitar 20% dari total persediaan.
Secara keseluruhan, negara-negara anggota masih memiliki lebih dari 1,4 miliar barel cadangan minyak darurat yang dapat digunakan untuk menstabilkan pasar energi global.
Minyak Cadangan Mulai Mengalir ke Asia
Birol juga mengungkapkan bahwa minyak dari cadangan darurat tersebut sudah mulai mengalir ke pasar, terutama ke kawasan Asia. Negara-negara anggota International Energy Agency sebelumnya sepakat menyediakan sekitar 400 juta barel minyak mentah untuk membantu menutup gangguan pasokan energi global.
Langkah ini diambil setelah harga minyak melonjak tajam menyusul konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, yang mengganggu stabilitas pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Gangguan Pasokan Terbesar dalam Beberapa Dekade
Menurut Birol, gangguan pasokan energi yang terjadi saat ini bahkan lebih besar dibandingkan gangguan pasokan selama Krisis Minyak 1973. Sebagai catatan, International Energy Agency sendiri didirikan pada tahun 1974 sebagai respons terhadap krisis energi global yang dipicu oleh embargo minyak negara-negara OPEC pada awal 1970-an.
Saat ini, organisasi tersebut beranggotakan 32 negara yang bekerja sama untuk menjaga stabilitas pasar energi global dan mengoordinasikan kebijakan cadangan minyak strategis.
Harga Minyak Masih Dipengaruhi Konflik
Di tengah upaya stabilisasi pasokan energi, harga minyak dunia dilaporkan sempat mengalami penurunan pada perdagangan Senin. Pergerakan harga tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk Persia, termasuk serangan terhadap fasilitas produksi energi serta ancaman terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya juga menyerukan agar negara-negara dunia bekerja sama menjaga keamanan jalur pelayaran tersebut. Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia, sehingga setiap gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi memicu volatilitas tinggi di pasar energi global.

