[Medan | 4 Mei 2026] Pasar menantikan rilis data inflasi April 2026 oleh Badan Pusat Statistik pada Senin (4/5/2026). Berdasarkan konsensus 13 institusi yang dihimpun CNBC Indonesia, inflasi diperkirakan mencapai 0,43% (mtm) dengan median inflasi tahunan di 2,72% (yoy), sementara inflasi inti diproyeksikan sebesar 2,40% (yoy). Sebagai perbandingan, pada Maret 2026 inflasi tercatat 0,41% (mtm) dan 3,48% (yoy), dengan inflasi inti di 2,63% (yoy), sehingga menunjukkan tekanan harga jangka pendek meningkat, namun tren tahunan mulai melandai.
Sumber Tekanan Inflasi: BBM dan Pangan
Kepala Ekonom Maybank Indonesia, Juniman, menjelaskan bahwa kenaikan inflasi April didorong oleh harga pangan seperti beras, gula, minyak goreng, daging sapi, daging ayam, gandum, kedelai, serta cabai merah. Selain itu, faktor utama berasal dari penyesuaian harga BBM non-subsidi pada 18 April 2026, di mana:
- Pertamax Turbo naik 48,1% (Rp13.100 → Rp19.400/liter)
- Dexlite naik 66,2% (Rp14.200 → Rp23.600/liter)
- Pertamina Dex naik 64,8% (Rp14.500 → Rp23.900/liter)
Pelemahan rupiah juga memperbesar tekanan inflasi impor (imported inflation), terutama pada komoditas berbasis impor.
Faktor Penahan Inflasi
Di sisi lain, tekanan inflasi tertahan oleh penurunan harga beberapa komoditas pangan. Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, menyebutkan bahwa turunnya harga cabai rawit, cabai merah, daging ayam, dan telur membantu meredam kenaikan inflasi. Ia juga memperkirakan dampak kenaikan harga BBM terhadap inflasi bulanan hanya sekitar +0,04 ppt, sehingga kenaikan inflasi tetap relatif terkendali.
Dampak Energi ke Inflasi Lanjutan
Tekanan energi mulai merambat ke sektor lain, terutama transportasi. Kenaikan harga avtur mendorong tarif tiket pesawat naik 3,13% (mtm) pada April, berlawanan dengan pola deflasi pasca-Lebaran. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan inflasi mulai bergeser dari volatile food ke administered prices dan berpotensi masuk ke inflasi inti.
Pergerakan IHSG: Tekanan Masih Dominan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan hari ini. Indeks sebelumnya telah turun 2,03% ke level 6.956,8, mencerminkan dominasi aksi jual menjelang rilis data makro. Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memproyeksikan IHSG bergerak dengan support di 6.838 dan resistance di 7.022, sementara Founder Republik Investor Hendra Wardana melihat rentang support 6.850–6.900 dan resistance 7.050–7.300 dengan peluang rebound terbatas ke area 7.100.
Sentimen Global dan Faktor Musiman
Dari sisi global, tekanan berasal dari kenaikan harga minyak dan sikap hawkish The Fed yang mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan yield global. Kondisi ini meningkatkan risiko capital outflow dari emerging markets, termasuk Indonesia. Selain itu, pola musiman “Sell in May and go away” turut memperbesar kecenderungan pasar bergerak sideways hingga melemah, di tengah minimnya katalis domestik.
Rotasi Sektor di Pasar Saham
Seiring normalisasi harga minyak, rotasi sektor mulai terlihat. Saham energi cenderung mengalami profit taking, sementara sektor perbankan, konsumsi, dan properti mulai dilirik karena sensitivitasnya terhadap suku bunga dan inflasi. Pergeseran ini mencerminkan perubahan positioning investor dalam menghadapi dinamika makro yang lebih ketat.
Analisa: Ruang BI Rate Cut Semakin Terbatas
Kombinasi kenaikan inflasi bulanan dan tekanan dari energi menunjukkan bahwa risiko inflasi masih belum sepenuhnya reda. Hal ini berpotensi membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter oleh Bank Indonesia dalam jangka pendek, terutama di tengah tekanan eksternal dari suku bunga global yang tinggi. Namun, inflasi tahunan yang melandai memberikan ruang bagi BI untuk tetap menjaga stabilitas tanpa harus bersikap agresif.
Kesimpulan: IHSG Sideways-Bearish, Tunggu Data
Secara keseluruhan, IHSG diperkirakan masih bergerak sideways dengan kecenderungan melemah dalam jangka pendek. Jika realisasi inflasi lebih tinggi dari ekspektasi, tekanan jual berpotensi berlanjut dan membawa indeks mendekati area support. Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dari perkiraan dapat membuka ruang rebound terbatas, meskipun belum cukup kuat untuk mengubah tren secara signifikan.

