[Medan | 6 Januari 2026] Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia sepanjang 2025 berada di level 2,92% secara tahunan (yoy), masih dalam kisaran target Bank Indonesia. Inflasi tersebut terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi 4,58% dengan andil 1,33%, mencerminkan masih kuatnya tekanan harga pangan sepanjang tahun.
Secara bulanan, inflasi Desember 2025 tercatat sebesar 0,64% (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan ini sejalan dengan peningkatan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 109,22 menjadi 109,92, didorong oleh komoditas pangan bergejolak seperti cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras, terutama pasca gangguan pasokan akibat banjir di sejumlah wilayah Sumatra.
Struktur Inflasi dan Faktor Pendorong
Dari sisi komponen, inflasi Desember 2025 didominasi oleh komponen bergejolak (volatile food) dengan andil 0,45%, menandakan tekanan inflasi masih bersifat supply-driven. Sementara itu, inflasi inti relatif terkendali dengan andil 0,12%, dipengaruhi kenaikan harga emas perhiasan dan minyak goreng. Kondisi ini menunjukkan permintaan domestik belum memberikan tekanan inflasi yang berlebihan.
Secara regional, seluruh provinsi mengalami inflasi bulanan, dengan Aceh mencatat inflasi tertinggi sebesar 3,6%, sedangkan Maluku Utara terendah di 0,05%. Tingginya inflasi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat berkaitan erat dengan gangguan distribusi pangan pasca bencana alam, bukan lonjakan permintaan struktural.
Implikasi terhadap Kebijakan Moneter
Kombinasi inflasi tahunan yang masih moderat dan inflasi inti yang terkendali memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk mempertahankan sikap kebijakan yang cenderung akomodatif. Namun, persistennya tekanan volatile food membuat BI tetap perlu berhati-hati agar ekspektasi inflasi tidak naik, terutama menjelang awal 2026 ketika risiko cuaca dan harga komoditas global masih tinggi.
Dampak ke Sektor Keuangan dan Pasar
Bagi sektor keuangan Indonesia, inflasi yang terkendali mendukung stabilitas makro dan daya beli, sehingga positif bagi pertumbuhan kredit secara gradual. Saham perbankan berpotensi diuntungkan dari stabilnya suku bunga kebijakan, meskipun margin bunga bersih (NIM) cenderung tidak mengalami ekspansi signifikan dalam jangka pendek.
Di pasar obligasi, kondisi inflasi yang masih dalam target memperkuat daya tarik SBN, khususnya pada tenor menengah hingga panjang, seiring ekspektasi suku bunga yang relatif stabil. Tekanan inflasi yang berasal dari sisi pasokan dipandang pasar sebagai faktor temporer, sehingga tidak langsung mendorong repricing agresif pada yield obligasi pemerintah.

