[Medan | 7 April 2026] Konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang telah memasuki bulan kedua masih menekan jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz yang menyumbang sekitar 20% pasokan minyak dunia. Meski secara umum akses dibatasi, Iran mulai memberikan izin terbatas kepada sejumlah negara yang dianggap “bersahabat”.
Indonesia sendiri masih menghadapi kendala, dengan dua kapal tanker milik Pertamina, Pertamina Pride dan Gamsunoro, belum dapat melintas. Pemerintah melalui jalur diplomasi masih berupaya mendapatkan izin aman dari otoritas Iran.
Di sisi lain, Iran menegaskan bahwa jalur tetap terbuka bagi negara tertentu, namun risiko keamanan dan keterbatasan asuransi membuat banyak perusahaan pelayaran tetap menahan diri untuk melintas.
Negara yang Diizinkan Melintas
Iran telah memberikan akses kepada kapal dari beberapa negara berikut:
- China → Kapal kontainer dan tanker mulai kembali melintas dengan fasilitasi khusus
- Thailand → Kapal Bangchak berhasil keluar setelah sempat tertahan
- Malaysia → Sekitar 7 kapal tanker telah diizinkan melintas
- Jepang → Kapal LNG berhasil melewati selat
- Irak → Dikecualikan, berpotensi membuka ekspor hingga 3 juta barel/hari
- Filipina → Dijamin pelayaran aman oleh Iran
- Pakistan → Tambahan 20 kapal diizinkan melintas
- India → Kapal LPG berhasil keluar dari Teluk Persia
- Bangladesh → 6 kapal mendapat izin resmi
- Turki → Kapal mulai lolos setelah mendapat izin
- Oman → Beberapa VLCC dan LNG carrier telah melintas
- Rusia → Diizinkan sebagai negara sekutu
Kebijakan selektif ini menunjukkan bahwa Iran menggunakan Selat Hormuz sebagai alat negosiasi geopolitik, bukan sekadar blokade total. Akses terbatas menjaga tekanan terhadap Barat, namun tetap mempertahankan aliran minyak ke negara-negara mitra.

