[Medan | 26 Maret 2026] Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap dibuka secara terbatas di tengah konflik dengan Amerika Serikat dan Israel. Namun, akses pelayaran kini bersifat selektif, hanya diberikan kepada negara yang dianggap tidak berpihak pada musuh serta mematuhi protokol keamanan yang ditetapkan Teheran.
Langkah ini mencerminkan perubahan signifikan dalam dinamika jalur perdagangan energi global, di mana faktor geopolitik kini secara langsung menentukan akses terhadap chokepoint strategis dunia.
Akses Selektif: Siapa yang Diizinkan Melintas?
Pemerintah Iran menyatakan bahwa kapal dari negara yang tidak mendukung operasi militer terhadap Iran dan tidak memfasilitasi kepentingan musuh tetap diperbolehkan melintas. Indonesia disebut sebagai salah satu negara yang kapalnya berhasil melewati jalur tersebut.
Selain itu, kapal tanker dari India juga dilaporkan telah memperoleh izin setelah adanya komunikasi diplomatik antara New Delhi dan Teheran. Namun demikian, masih terdapat puluhan kapal berbendera India yang tertahan di kawasan Teluk Persia, menunjukkan bahwa akses belum sepenuhnya normal.
Di sisi lain, muncul indikasi bahwa Iran dapat memberikan preferensi kepada transaksi energi yang tidak menggunakan dolar AS, termasuk yang menggunakan yuan. Jika terkonfirmasi, kebijakan ini berpotensi menjadi langkah strategis dalam mendorong dedolarisasi perdagangan energi global.
Selat Hormuz sebagai Instrumen Geopolitik
Sebagai jalur yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia, Selat Hormuz memiliki peran krusial dalam stabilitas energi global. Dalam situasi konflik, kontrol atas jalur ini memberikan leverage signifikan bagi Iran terhadap pasar global.
Kebijakan pembatasan akses ini menunjukkan bahwa Selat Hormuz tidak lagi sekadar jalur logistik, tetapi telah menjadi instrumen tekanan geopolitik. Dengan kata lain, risiko gangguan pasokan kini bukan hanya berasal dari kerusakan fisik, tetapi juga dari kebijakan selektif berbasis politik.

