[Medan | 5 Maret 2026] Pemerintah Iran membantah keras laporan yang menyebutkan bahwa kementerian intelijen mereka telah menghubungi Amerika Serikat untuk membahas penghentian perang di Timur Tengah.
Sebelumnya, The New York Times melaporkan bahwa sejumlah agen Iran dikabarkan mengontak CIA secara tidak langsung pada Minggu lalu untuk mendiskusikan syarat penghentian konflik. Laporan ini langsung ditepis oleh kantor berita semi-pemerintah Iran, Tasnim, yang menyebutnya sebagai “murni kebohongan dan perang psikologis.”
Kabar bantahan ini sempat mendorong harga minyak naik tipis, namun penguatan tersebut segera berbalik arah. Fokus pasar kini bergeser pada rencana AS untuk menugaskan angkatan lautnya mengawal kapal-kapal tanker melewati Selat Hormuz, jalur perdagangan strategis yang menjadi nadi pasokan energi global. Lalu lintas di selat ini menurun tajam sejak pecahnya konflik pada Sabtu, setelah serangan Israel dan AS ke Iran.
Harga minyak mentah Brent tercatat turun 0,2% ke level US$81,24 per barel pada pukul 15.00 waktu London. Baik Iran maupun AS menyatakan kesiapannya untuk melanjutkan pertempuran, meningkatkan kekhawatiran pasar akan perang yang berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.
Hingga saat ini, lebih dari 1.000 orang tewas, mayoritas di pihak Iran, sementara harga energi global tetap tinggi akibat eskalasi konflik tersebut.

