[Medan | 2 Februari 2026] Harga minyak dunia melonjak tajam hingga 10% setelah konflik terbuka antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran. Analis memperkirakan harga minyak berpotensi menembus level psikologis US$ 100 per barel jika gangguan pasokan di Timur Tengah berlanjut.
Perdagangan over the counter menunjukkan harga minyak Brent sempat menyentuh US$ 80 per barel pada Minggu (1/3/2026), naik dari US$ 73 per barel pada Jumat, level tertinggi sejak Juli 2025. Lonjakan ini dipicu terutama oleh keputusan Iran menutup Selat Hormuz, jalur utama yang mengalirkan lebih dari 20% pasokan minyak global.
Direktur energi dan pengilangan ICIS Ajay Parmar menekankan bahwa penutupan Selat Hormuz menjadi faktor kunci yang mendorong harga, sementara ekonom energi Rystad Energy, Jorge Leon, memperkirakan aliran minyak global bisa terpangkas 8–10 juta barel per hari meski sebagian dialihkan melalui pipa alternatif di Arab Saudi dan Abu Dhabi.
Beberapa analis, termasuk Helima Croft (RBC) dan Rabobank, menilai harga minyak bisa bertahan di atas US$ 90 per barel, dengan risiko menembus US$ 100 per barel jika ketegangan terus meningkat. Sementara itu, OPEC+ sepakat menaikkan produksi sebesar 206.000 barel per hari mulai April, namun tambahan ini dinilai tidak signifikan untuk menahan lonjakan harga.
Di Asia, pemerintah dan kilang tengah mengevaluasi cadangan serta mencari rute pengiriman alternatif. India diproyeksikan meningkatkan impor minyak dari Rusia untuk mengantisipasi potensi kekurangan pasokan dari Timur Tengah.

