[Medan | 3 Maret 2026] Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat melonjak tajam pada Senin (2/3), seiring lonjakan harga minyak dan gas dunia menyusul eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran, serta serangan balasan Teheran ke berbagai wilayah di Timur Tengah.
Konflik udara AS–Israel terhadap Iran terus meluas tanpa kepastian akhir. Israel juga melancarkan serangan ke Lebanon sebagai respons atas serangan Hizbullah, sementara Iran menembakkan rudal dan drone ke sejumlah negara Teluk serta pangkalan udara Inggris di Siprus.
Dalam pengarahan resmi pertama Pentagon sejak operasi militer dimulai, Menteri Pertahanan Pete Hegseth tidak menetapkan batas waktu berakhirnya kampanye militer. Pernyataan ini menyusul pernyataan Presiden Donald Trump yang menyebut serangan udara berpotensi berlangsung selama beberapa pekan.
Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga Surut
Lonjakan harga energi memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi dan berpotensi menunda agenda pelonggaran kebijakan moneter oleh Federal Reserve.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin atau lebih pada pertemuan Juni turun menjadi 46,9 persen, dari 57,4 persen pada sesi sebelumnya.
Harga minyak dunia sempat melonjak hingga 13 persen sebelum memangkas sebagian kenaikan. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 5,71 persen ke level US$70,90 per barel, sementara Brent menguat 7,19 persen ke US$78,16 per barel.
Yield Treasury Naik Tajam
Kenaikan harga energi langsung tercermin di pasar obligasi. Yield obligasi Treasury AS tenor dua tahun, yang sensitif terhadap ekspektasi suku bunga, melonjak 8,8 basis poin ke 3,467 persen, menjadi kenaikan harian terbesar sejak 29 Oktober.
Sementara itu, yield obligasi acuan tenor 10 tahun naik 7,6 basis poin ke 4,038 persen, mencatat kenaikan harian terbesar sejak 1 Desember. Yield obligasi tenor 30 tahun turut meningkat 5,5 basis poin ke 4,688 persen.
Selisih yield antara obligasi dua tahun dan 10 tahun, yang mencerminkan ekspektasi arah ekonomi, tercatat positif 56,9 basis poin.
Data Manufaktur Tambah Tekanan Inflasi
Kenaikan yield juga dipicu oleh data manufaktur dari Institute for Supply Management (ISM). Indeks PMI manufaktur Februari tercatat 52,4, relatif stabil dibandingkan 52,6 pada Januari dan tetap berada di zona ekspansi.
Namun, indeks harga yang dibayar oleh pabrikan melonjak ke level tertinggi dalam hampir tiga setengah tahun, memperkuat kekhawatiran meningkatnya tekanan inflasi, terutama akibat dampak tarif perdagangan dan kenaikan harga energi.
Di pasar obligasi lindung inflasi, tingkat breakeven lima tahun pada Treasury Inflation-Protected Securities (TIPS) naik menjadi 2,483 persen, dari 2,439 persen pada Jumat sebelumnya. Sementara breakeven 10 tahun berada di level 2,267 persen, mengindikasikan ekspektasi inflasi rata-rata sekitar 2,3 persen per tahun dalam satu dekade ke depan.
Kombinasi eskalasi geopolitik di Timur Tengah dan tekanan harga energi kini menjadi faktor utama yang membentuk arah pasar obligasi global serta ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat dalam waktu mendatang.

