[Medan | 26 Februari 2026] Mantan Gubernur Haruhiko Kuroda menilai Jepang perlu terus menaikkan suku bunga dan mulai memperketat kebijakan fiskal seiring kondisi ekonomi yang dinilainya sudah berada dalam fase yang kuat. Ia memperingatkan bahwa rencana belanja besar pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi berpotensi memicu tekanan inflasi baru.
Kuroda menyebut, dengan pertumbuhan ekonomi yang solid dan kenaikan upah yang stabil, Bank of Japan memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga sekitar dua kali per tahun sepanjang 2026 hingga 2027. Ia menilai Jepang telah keluar dari fase deflasi yang menjadi latar belakang kebijakan moneter ultra-longgar satu dekade terakhir.
Pada periode peluncuran Abenomics, Jepang menghadapi deflasi berkepanjangan dan penguatan yen yang menekan sektor ekspor. Kondisi tersebut kini telah berbalik, dengan inflasi yang bertahan di atas target 2% serta pelemahan nilai tukar yen. Dalam situasi ini, menurut Kuroda, arah kebijakan seharusnya bergeser menuju pengetatan moneter dan fiskal secara bertahap.
Kuroda menilai kebijakan fiskal yang terlalu ekspansif, termasuk peningkatan belanja dan pemangkasan pajak, berisiko tidak tepat di tengah tekanan inflasi yang masih tinggi. Ia mengakui dukungan pemerintah terhadap inovasi dan peningkatan potensi pertumbuhan jangka panjang tetap penting, namun belanja untuk meredam kenaikan biaya hidup justru berpotensi memperkuat tekanan harga dan mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah.
Pandangan tersebut menegaskan perbedaan arah kebijakan antara Kuroda, arsitek utama Abenomics di era Perdana Menteri Shinzo Abe, dengan pemerintahan saat ini. Meski dikenal sebagai pendukung Abenomics, Takaichi dalam beberapa bulan terakhir meningkatkan belanja fiskal dan berjanji menangguhkan pajak penjualan pangan sebesar 8% selama dua tahun guna melindungi daya beli rumah tangga.
Dari sisi moneter, BOJ telah mengakhiri kebijakan stimulus era Kuroda pada 2024 dan menaikkan suku bunga beberapa kali, termasuk pada Desember lalu. Kuroda menilai bank sentral masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga acuan dari level saat ini sekitar 0,75% menuju kisaran netral di 1,5% hingga 1,75% dalam beberapa tahun ke depan, selama momentum pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.
Sementara itu, pergerakan yen kembali menjadi sorotan pasar. Nilai tukar yen melemah setelah muncul laporan mengenai kehati-hatian pemerintah terhadap kelanjutan kenaikan suku bunga. Yen diperdagangkan di kisaran 155,80 per dolar AS, mendekati level psikologis yang kerap memicu intervensi verbal otoritas Jepang.
Kuroda menilai level yen saat ini cenderung terlalu lemah jika dibandingkan dengan kondisi fundamental ekonomi Jepang, termasuk pertumbuhan dan dinamika inflasi. Namun, ia menekankan bahwa intervensi valuta asing hanya memberikan dampak sementara dan sulit dipertahankan tanpa dukungan kebijakan moneter yang konsisten.
Dalam konteks komunikasi kebijakan, Kuroda menilai pendekatan berhati-hati yang ditempuh Gubernur BOJ saat ini sudah tepat. Ia menegaskan bahwa komunikasi agresif ala shock therapy tidak lagi relevan dalam fase normalisasi kebijakan, dan bank sentral justru perlu menjaga profil rendah agar proses kenaikan suku bunga berlangsung tanpa mengganggu stabilitas ekonomi.

