[Medan | 6 Maret 2026] Pemerintah berencana membangun tangki penyimpanan minyak di Sumatra untuk meningkatkan kapasitas cadangan energi nasional hingga tiga bulan. Langkah ini dianggap krusial untuk memperkuat ketahanan energi di tengah dinamika geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan kapasitas penyimpanan minyak nasional saat ini masih terbatas, hanya mampu menopang kebutuhan 20–25 hari.
“Storage kita harus dibangun dulu. Untuk minimal 3 bulan. Kalau impor banyak mau taruh di mana? Emang faktanya begitu, bukan salah siapa-siapa,” ujar Bahlil dalam konferensi pers di Kementerian ESDM, Rabu (4/3/2026).
Feasibility study (FS) untuk proyek ini sedang berjalan dan ditargetkan mulai direalisasikan pada tahun ini. Namun, lokasi pembangunan tangki di Sumatra belum dirinci secara spesifik.
Proyek tangki penyimpanan ini merupakan bagian dari rencana pemerintah untuk membangun kilang dan fasilitas penyimpanan minyak di berbagai wilayah Indonesia. Proyek ini sebelumnya direncanakan sejak pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan mencakup pembangunan kilang dan tangki minyak di 18 lokasi, dari Lhokseumawe (Aceh) hingga Fakfak (Papua Barat).
Berdasarkan bahan paparan Kementerian ESDM, total investasi untuk proyek hilirisasi dan ketahanan energi nasional mencapai Rp 232 triliun, terdiri dari:
- Proyek kilang: Rp 160 triliun, menyerap 44.000 tenaga kerja
- Proyek tangki minyak: Rp 72 triliun, menyerap 6.960 tenaga kerja
Lokasi proyek mencakup Lhokseumawe, Sibolga, Natuna, Cilegon, Sukabumi, Semarang, Surabaya, Sampang, Pontianak, Badung (Bali), Bima, Ende, Makassar, Donggala, Bitung, Ambon, Halmahera Utara, dan Fakfak.
Proyek ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendukung pembangunan industri hilir migas yang terintegrasi, meningkatkan penyimpanan strategis, serta menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat lokal.

