[Medan | 3 Maret 2026] Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio memperingatkan bahwa militer AS akan meningkatkan intensitas serangan terhadap Iran dalam waktu dekat. Pernyataan ini disampaikan setelah dua hari serangan udara yang, menurut pemerintahan Presiden Donald Trump, telah berhasil melumpuhkan struktur kepemimpinan Iran serta menyasar program rudal balistik negara tersebut.
Rubio menegaskan bahwa gelombang serangan paling berat belum dilancarkan. Ia menyatakan fase berikutnya dari operasi militer AS akan memberikan dampak yang jauh lebih menyakitkan bagi Iran dibandingkan serangan yang telah terjadi sejauh ini.
Tujuan Operasi Militer AS
Pernyataan tersebut disampaikan Rubio saat berada di Capitol Hill, dalam rangka memberikan pengarahan kepada anggota Kongres mengenai operasi militer Presiden Trump yang dilakukan bersama Israel. Dalam penjelasannya, Rubio menegaskan bahwa tujuan utama AS adalah menghancurkan program rudal balistik Iran yang dinilai menjadi pelindung bagi ambisi nuklir Teheran.
Selain itu, operasi militer juga ditujukan untuk melumpuhkan armada angkatan laut Iran serta jaringan drone tempur yang selama ini dianggap mengancam kepentingan keamanan AS dan sekutunya di kawasan.
Rubio kembali mengutip klaim Presiden Trump yang menyebut Iran sebagai ancaman nyata dan mendesak bagi Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa Trump tidak memerlukan persetujuan Kongres untuk melancarkan operasi militer tersebut, sebuah pandangan yang menuai penolakan keras dari Partai Demokrat.
Kritik dari Partai Demokrat
Sejumlah anggota Kongres dari Partai Demokrat mempertanyakan dasar hukum dan justifikasi serangan tersebut. Senator Jeanne Shaheen, pejabat senior Demokrat di Komite Hubungan Luar Negeri Senat, menyatakan bahwa pemerintah telah menyampaikan pembenaran atas operasi militer, namun gagal menyertakan bukti substansial yang mendukung klaim ancaman mendesak dari Iran.
Senator Mark Warner, petinggi Demokrat di Komite Intelijen Senat, turut melontarkan kritik tajam. Ia mempertanyakan tujuan jangka panjang operasi tersebut, rencana keluar AS dari konflik, serta konsekuensi moral dan politik jika rakyat Iran benar-benar melakukan perlawanan sebagaimana diserukan Trump.
Respons Pemerintah AS
Menanggapi kritik tersebut, Rubio membela langkah pemerintah dan menegaskan bahwa komunikasi dengan legislatif telah dilakukan. Ia mengklaim telah menghubungi para pemimpin Kongres secara langsung pada malam sebelum operasi militer dimulai dan menegaskan bahwa seluruh tindakan pemerintah telah sesuai dengan hukum yang berlaku.
Meski serangan gabungan AS–Israel dilaporkan telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei serta puluhan pejabat tinggi lainnya, Rubio membantah bahwa tujuan utama operasi tersebut adalah penggantian rezim. Ia juga mengonfirmasi bahwa hingga saat ini tidak terdapat jalur diplomasi yang terbuka antara Washington dan Teheran.
Tidak Menutup Opsi Militer Lanjutan
Rubio menyatakan bahwa meskipun AS tidak secara eksplisit menargetkan perubahan rezim, hasil akhir yang diharapkan adalah Iran kehilangan kemampuan untuk mengembangkan dan mengoperasikan rudal balistik serta drone tempur yang dapat mengancam keamanan AS di masa depan.
Terkait kemungkinan pengerahan pasukan darat, Rubio tidak menutup opsi tersebut secara mutlak. Namun, ia menegaskan bahwa saat ini Amerika Serikat tidak berada dalam posisi untuk melancarkan invasi darat dan mengecilkan kemungkinan langkah tersebut dilakukan dalam waktu dekat.

