[Medan | 17 Maret 2025] Neraca perdagangan Indonesia diperkirakan tetap mencatatkan surplus pada Februari 2025, meskipun mengalami penyusutan dibandingkan bulan sebelumnya. Berdasarkan proyeksi, surplus perdagangan bulan ini diperkirakan berada di angka US$1,85 miliar, turun dari US$3,45 miliar pada Januari 2025.
Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., Andry Asmoro, menjelaskan bahwa penyusutan surplus ini disebabkan oleh moderasi ekspor, terutama akibat penurunan harga dan volume ekspor batu bara. Kendati demikian, ekspor masih diperkirakan tumbuh positif sebesar 7,8% secara tahunan (YoY), meskipun mengalami kontraksi 3,2% secara bulanan (MtM).
Dari sisi impor, Asmoro memperkirakan pertumbuhan sebesar 2,6% YoY atau 5,1% MtM. Peningkatan ini didorong oleh membaiknya Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia yang berkontribusi pada naiknya impor bahan baku untuk mendukung aktivitas industri.
Secara keseluruhan, neraca perdagangan Indonesia masih berpotensi mencatatkan surplus yang berkelanjutan, yang pada akhirnya akan berkontribusi terhadap stabilitas sektor eksternal. Surplus perdagangan juga berperan dalam memperbaiki defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD), yang pada kuartal IV-2024 tercatat sebesar US$1,1 miliar atau setara 0,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB), lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai US$2 miliar (0,6% PDB).
Untuk 2025, defisit transaksi berjalan diperkirakan akan tetap stabil di kisaran 0,5% hingga 1,3% dari PDB, didukung oleh surplus neraca perdagangan yang terus terjaga. Hal ini menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan ekonomi Indonesia di tengah berbagai tantangan eksternal, termasuk volatilitas nilai tukar dan dinamika perdagangan global.