IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

Neraca Dagang RI November 2025 Surplus US$2,66 Miliar

By Aurelia Tanu 2 days ago Ekonomi
Image source: AP/ kemenkeu.go.id
SHARE

[Medan | 6 Januari 2026] Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia tetap mencetak surplus pada November 2025 sebesar US$ 2,66 miliar. Secara kumulatif, surplus neraca perdagangan sepanjang Januari–November 2025 mencapai US$ 38,54 miliar, meningkat 31,8% secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kinerja positif ini menegaskan ketahanan sektor eksternal Indonesia, meskipun tekanan terhadap ekspor mulai terlihat menjelang akhir tahun akibat pelemahan harga komoditas dan permintaan global.

Surplus Ditopang Nonmigas, Migas Masih Jadi Beban
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini menjelaskan surplus neraca perdagangan sepanjang Januari–November 2025 terutama berasal dari sektor nonmigas dengan surplus sebesar US$ 56,15 miliar. Sebaliknya, neraca migas masih mencatat defisit cukup dalam sebesar US$ 17,61 miliar dan menjadi faktor penahan surplus total.

Kondisi ini mencerminkan struktur neraca dagang Indonesia yang masih sangat bergantung pada kinerja ekspor nonmigas, khususnya komoditas, di tengah ketergantungan impor energi yang relatif tinggi.

Amerika Serikat Jadi Kontributor Surplus Terbesar
Dari sisi mitra dagang, Amerika Serikat kembali menjadi penyumbang surplus terbesar bagi Indonesia dengan nilai US$ 16,54 miliar. India menyusul dengan surplus US$ 12,6 miliar, dan Filipina sebesar US$ 7,81 miliar. Pada neraca nonmigas, dominasi AS bahkan lebih kuat dengan surplus mencapai US$ 19,21 miliar.

Sebaliknya, China masih menjadi sumber defisit terdalam bagi Indonesia, baik secara total maupun nonmigas, dengan nilai masing-masing minus US$ 17,74 miliar dan minus US$ 19,28 miliar. Defisit juga tercatat dengan Australia dan Singapura, terutama akibat impor komoditas dan barang modal.

Ekspor Mulai Melemah, Risiko Surplus 2026
Ekonom Bank Danamon Indonesia Hosianna Evalita menilai surplus neraca dagang Indonesia pada 2026 berpotensi menghadapi tekanan. Pelemahan ekspor mulai terlihat pada November 2025, dengan nilai ekspor tercatat US$ 22,52 miliar atau turun 6,60% YoY. Kontraksi terutama terjadi pada sektor pertambangan yang anjlok 22,28% YoY, dipicu penurunan ekspor batu bara ke China dan India.

Ke depan, penerapan bea keluar emas dan batu bara berpotensi menekan kinerja ekspor, ditambah risiko penurunan volume ekspor CPO akibat gangguan cuaca. Tekanan ini dapat mengurangi ruang surplus neraca dagang pada 2026 jika tidak diimbangi pemulihan permintaan global.

Impor Naik, Sinyal Pemulihan Investasi Domestik
Di sisi lain, impor justru tumbuh 0,46% YoY menjadi US$ 19,86 miliar. Kenaikan impor migas mencapai 11,19% YoY, mencerminkan tingginya kebutuhan energi domestik. Yang menarik, impor barang modal melonjak 17,27% YoY, terutama mesin dan peralatan listrik.

Kenaikan impor barang modal sejalan dengan ekspansi PMI manufaktur Indonesia Desember 2025 di level 51,2, mengindikasikan perbaikan aktivitas produksi dan investasi. Namun, hal ini juga berpotensi mempersempit surplus neraca dagang ke depan.

Dampak ke Rupiah, Saham, dan Obligasi
Dari sisi makro, surplus neraca dagang yang masih terjaga memberikan bantalan penting bagi stabilitas rupiah, terutama di tengah volatilitas global dan tekanan geopolitik. Namun, tren pelemahan ekspor menjadi sinyal bahwa dukungan eksternal terhadap rupiah bisa melemah secara bertahap pada 2026.

Di pasar obligasi, surplus dagang yang besar membantu menjaga persepsi risiko eksternal Indonesia tetap terkendali, mendukung stabilitas yield SBN. Meski demikian, jika surplus menyempit akibat impor yang meningkat dan ekspor melemah, tekanan kenaikan yield dapat muncul, terutama pada tenor menengah–panjang.

Untuk pasar saham, data ini bersifat campuran. Saham berbasis komoditas menghadapi risiko penurunan kinerja seiring pelemahan ekspor dan harga global. Sebaliknya, sektor manufaktur, industri, dan barang modal berpotensi diuntungkan oleh peningkatan impor mesin dan sinyal pemulihan investasi domestik.

Kesimpulan
Surplus neraca perdagangan Indonesia hingga November 2025 menegaskan ketahanan sektor eksternal, namun tren perlambatan ekspor menjadi peringatan awal menuju 2026. Ke depan, keseimbangan antara ekspor komoditas, kebijakan bea keluar, dan peningkatan impor barang modal akan menjadi faktor kunci dalam menentukan kekuatan rupiah, arah yield obligasi, serta rotasi sektor di pasar saham Indonesia.

 

You Might Also Like

Kashkari The Fed Sebut Suku Bunga AS Sudah Dekati Level Netral

China Batasi Ekspor Peralatan Militer ke Jepang

Inflasi Tahunan RI Desember 2025 Tercatat 2,92%

Gubernur Bank of Japan Berjanji Akan Terus Menaikkan Suku Bunga

Usai Venezuela, Trump Bakal Targetkan Meksiko, Kuba dan Kolombia?

TAGGED: neraca dagang Indonesia
Aurelia Tanu January 6, 2026 January 6, 2026
Previous Article Gubernur Bank of Japan Berjanji Akan Terus Menaikkan Suku Bunga
Next Article Inflasi Tahunan RI Desember 2025 Tercatat 2,92%
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Komplek CitraLand Gama City, Madison Avenue, Blok R6 No. 90, Deli Serdang, Sumatera Utara, Indonesia
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?