[Medan | 21 Januari 2026] Pasar obligasi pemerintah Jepang (Japanese Government Bonds/JGB) kembali menjadi sorotan setelah terjadi aksi jual masif pada awal pekan ini. Aksi jual ini mendorong imbal hasil JGB naik di berbagai tenor, termasuk tenor 10 tahun yang menembus level tertinggi dalam 27 tahun.
Berdasarkan data Refinitiv, yield JGB tenor 10 tahun ditutup pada level 2,274% pada Senin (19/1/2026), level tertinggi sejak Februari 1999. Tekanan jual berlanjut pada Selasa pagi, dengan yield 10 tahun sempat menembus 2,325% per pukul 10.20 WIB. Imbal hasil yang naik menunjukkan harga obligasi turun, menandakan bahwa tekanan jual masih dominan dibandingkan minat beli.
Kenaikan yield juga terjadi pada tenor panjang. Imbal hasil JGB tenor 40 tahun bahkan mencetak rekor baru, menembus level 4% pada Selasa (20/1/2026). Yield tenor panjang ini naik lebih dari lima basis poin dan menjadi level tertinggi sejak tenor 40 tahun pertama kali diterbitkan pada November 2007.
Penyebab Aksi Jual: Kekhawatiran Fiskal dan Pemilu Dadakan
Kekhawatiran pasar terutama muncul dari potensi pemburukan kondisi fiskal Jepang. Beberapa anggota parlemen dari partai berkuasa maupun oposisi kembali menyinggung kemungkinan pemangkasan pajak, termasuk pemotongan pajak penjualan makanan dan wacana pemangkasan pajak konsumsi. Jika kebijakan ini direalisasikan, penerimaan pemerintah diperkirakan akan turun dan defisit anggaran berpotensi melebar.
Sentimen ini diperparah oleh rencana pembubaran parlemen yang diumumkan Perdana Menteri Sanae Takaichi pada Jumat (23/1/2026), serta pemilu dadakan yang diperkirakan digelar pada 8 Februari mendatang. Pemilu ini diperkirakan akan banyak membahas kebijakan ekonomi, sehingga pasar obligasi menjadi lebih sensitif terhadap kemungkinan kebijakan fiskal yang lebih longgar.
“Takaichi Trade” Kembali Muncul
Kenaikan yield JGB kali ini dinilai tidak hanya dipicu faktor fundamental, tetapi juga faktor teknikal dan sentimen pasar. Senior fixed income strategist State Street, Masahiko Loo, menyebut bahwa pasar sedang melakukan penyesuaian premi tenor dan premi risiko, seiring sinyal kebijakan fiskal yang lebih ekspansif dan tekanan inflasi yang masih bertahan.
Fenomena ini kembali memunculkan pola yang dikenal sebagai “Takaichi trade”, yaitu pasar saham Jepang cenderung menguat, obligasi pemerintah melemah (yield naik), dan yen melemah. Loo juga membandingkan volatilitas saat ini dengan reaksi pasar pada Oktober tahun lalu yang dipicu sinyal kebijakan serupa.
Ke depan, Loo memproyeksikan kurva yield masih akan tetap curam pada paruh pertama tahun ini, namun akan berangsur stabil seiring penyesuaian penerbitan obligasi dan kembalinya bank-bank domestik sebagai pembeli utama.
Implikasi ke Obligasi Indonesia
Kenaikan yield JGB dan risiko fiskal Jepang menjadi salah satu faktor yang memicu risiko pasar global, terutama pada aset berdenominasi dolar dan yen. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko “risk-off” sehingga mendorong aliran modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Di pasar domestik, tren yield Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia cenderung naik dalam sebulan terakhir, terutama pada tenor pendek dan menengah. Mengacu data Refinitiv, yield SBN tenor 10 tahun naik dari 6,126% pada 19 Desember 2025 menjadi 6,331% pada 20 Januari 2026. Tenor 5 tahun juga meningkat dari 5,6% menjadi 5,762% dalam periode yang sama.
Sementara itu, yield tenor 30 tahun relatif lebih stabil, bergerak di kisaran 6,67%–6,70%. Namun, fluktuasi tetap terjadi karena tekanan global dan faktor domestik seperti kebutuhan pembiayaan pemerintah serta dinamika nilai tukar rupiah.
Secara keseluruhan, kenaikan yield JGB memperkuat tekanan global terhadap pasar obligasi emerging market. Jika risiko global meningkat, imbal hasil SBN berpotensi kembali naik karena investor menuntut premi risiko yang lebih tinggi.

