[Medan | 10 April 2026] Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan bertemu di Islamabad pada 10 April 2026 dalam perundingan lanjutan yang dimediasi Pakistan di bawah Perdana Menteri Shehbaz Sharif. Pertemuan ini merupakan kelanjutan dari gencatan senjata dua minggu yang sebelumnya disepakati secara bersyarat, dengan fokus utama pada pembukaan kembali Selat Hormuz, mekanisme keamanan pelayaran, serta kerangka penghentian eskalasi militer di kawasan Timur Tengah.
Skenario Positif: Kesepakatan Bertahap Tercapai
Jika negosiasi menghasilkan kesepakatan, terutama terkait pembukaan penuh Selat Hormuz dan mekanisme keamanan pelayaran, pasar berpotensi mengalami reli lanjutan.
Dari sisi energi, risiko supply shock akan turun signifikan. Harga minyak kemungkinan melanjutkan koreksi dari level tinggi dan kembali stabil ke area pra-konflik. Penurunan premi risiko geopolitik ini akan langsung meredakan tekanan inflasi global.
Untuk pasar keuangan, ini membuka ruang bagi penurunan yield obligasi AS karena ekspektasi inflasi menurun. The Fed akan kembali memiliki ruang untuk bersikap lebih dovish, bahkan memperbesar peluang pemangkasan suku bunga lebih cepat dari proyeksi sebelumnya.
Di emerging markets seperti Indonesia, kondisi ini biasanya sangat positif. Arus modal asing berpotensi kembali masuk ke obligasi dan saham, rupiah menguat, dan IHSG mendapat dorongan dari risk-on sentiment global.
Skenario Netral: Gencatan Senjata Bertahan Tapi Tanpa Kepastian Jangka Panjang
Jika pertemuan hanya menghasilkan kesepakatan teknis tanpa resolusi politik jangka panjang, pasar akan berada dalam mode “wait and see”.
Harga minyak kemungkinan stabil di level tinggi, tidak lagi spike tetapi juga tidak turun signifikan. Ini berarti inflasi global tetap sticky, namun tidak memburuk lebih jauh.
Dalam kondisi ini, The Fed cenderung tetap hati-hati (higher for longer), dan pasar obligasi global bergerak sideways dengan volatilitas tetap tinggi.
Bagi Indonesia, arus dana asing cenderung selektif, masuk tapi tidak agresif. Market bergerak lebih didorong oleh data domestik seperti inflasi dan kebijakan BI.
Skenario Negatif: Negosiasi Gagal, Konflik Kembali Eskalasi
Jika perundingan gagal atau kedua pihak kembali pada posisi keras, risiko eskalasi militer kembali terbuka, terutama terkait Selat Hormuz sebagai jalur energi utama dunia.
Dalam skenario ini, harga minyak berpotensi melonjak kembali ke level ekstrem karena pasar akan kembali mengantisipasi gangguan suplai. Volatilitas energi akan meningkat tajam, dan inflasi global kembali naik.
The Fed akan terdorong semakin hawkish, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga jika inflasi energi tidak terkendali. Yield US Treasury akan naik, dolar menguat, dan aset berisiko global mengalami tekanan.
Untuk Indonesia, ini skenario negatif: rupiah tertekan, yield SBN naik (price turun), dan IHSG berpotensi koreksi karena outflow asing kembali terjadi.

