[Medan | 9 Februari 2026] Nilai tukar Yen bergerak fluktuatif pada perdagangan Senin (9/2/2026) menyusul kemenangan telak Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dalam pemilu legislatif. Di saat yang sama, bursa saham Asia diperkirakan mengawali pekan di zona hijau, mengikuti reli Wall Street pada akhir pekan lalu.
Berdasarkan laporan lembaga penyiaran publik NHK, Partai Demokrat Liberal (LDP) yang dipimpin Takaichi berhasil mengamankan mayoritas absolut dua pertiga kursi di Majelis Rendah secara mandiri. Mandat politik yang kuat ini membuka ruang bagi pemerintah untuk meluncurkan stimulus fiskal tambahan, yang dinilai positif bagi pasar saham namun berpotensi menekan obligasi pemerintah Jepang (JGB) dan nilai tukar Yen.
Ekspektasi Stimulus Tekan Yen, Dorong Ekuitas
Kontrak berjangka indeks saham Asia mengindikasikan penguatan untuk bursa Australia, Hong Kong, dan Jepang. Sentimen positif tersebut diperkuat oleh reli saham AS pada Jumat lalu, di mana indeks S&P 500 melonjak sekitar 2% seiring membaiknya sentimen konsumen dan aksi beli investor. Sejalan dengan itu, dolar AS dan imbal hasil US Treasury tercatat melemah tipis.
Kemenangan LDP memperkuat ekspektasi kebijakan fiskal yang lebih longgar di Jepang. Investor menilai kombinasi stimulus fiskal dan kebijakan moneter akomodatif akan terus menekan Yen, memunculkan dominasi strategi perdagangan yang dikenal sebagai “Takaichi trades”—long ekuitas Jepang dan short Yen—di awal pekan ini.
Risk-On Global di Awal Pekan
Sentimen risk-on global dinilai masih berlanjut, didorong oleh data ekonomi AS yang solid serta rebound Wall Street. Tony Sycamore, analis IG Sydney, menyebut investor memanfaatkan koreksi awal pekan lalu untuk mengakumulasi saham-saham siklikal, sembari mengurangi eksposur pada sektor teknologi.
“Dorongan dari Wall Street dan hasil pemilu Jepang kemungkinan menciptakan sesi risk-on di pasar saham Asia, meski sifatnya masih jangka sangat pendek,” ujarnya.
Kekhawatiran Utang Jepang Kembali Muncul
Meski berdampak positif bagi ekuitas, mandat politik yang sangat kuat ini juga memunculkan kekhawatiran terkait stimulus berbasis utang. Banyak investor menilai Takaichi kini memiliki ruang yang lebih besar untuk meningkatkan belanja fiskal, menambah beban utang Jepang yang sudah berada di level sangat tinggi.
Jason Wong, pakar strategi di Bank of New Zealand, menilai hasil pemilu ini memperkuat prospek Yen yang lemah dan tekanan lanjutan pada JGB tenor panjang. “Takaichi telah memenangkan mandat kuat untuk menjalankan agenda stimulus moneter dan fiskal,” ujarnya.
Fokus Beralih ke Data AS
Ke depan, perhatian investor global akan tertuju pada rilis data ekonomi AS, terutama laporan ketenagakerjaan Januari dan data inflasi, yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve. Saat ini, pelaku pasar melihat peluang kurang dari 20% bagi The Fed untuk memangkas suku bunga pada bulan depan, setelah suku bunga acuan ditahan di kisaran 3,5%–3,75% pada Januari.

