[Medan | 6 Februari 2026] Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,53% ke level 8.103 pada perdagangan Kamis (6/2/2026). Rilis data pertumbuhan ekonomi yang solid belum mampu menjadi katalis positif bagi pasar saham domestik.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2025 tumbuh 5,39% (year-on-year/yoy), tertinggi sejak kuartal III-2023 atau dalam 13 kuartal terakhir. Secara keseluruhan, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sepanjang 2025 mencapai 5,11%, menjadi yang tertinggi sejak 2022. Namun, capaian tersebut belum cukup kuat untuk mendorong penguatan IHSG.
Pertumbuhan Dinilai Belum Tentu Berkelanjutan
Ekonom Bloomberg Economics, Tamara Mast Henderson, menilai pasar masih bersikap hati-hati menilai kualitas pertumbuhan ekonomi tersebut. Menurutnya, perlu waktu untuk memastikan apakah laju pertumbuhan ini bersifat berkelanjutan atau hanya bersifat sementara akibat pelepasan permintaan tertahan (pent-up demand).
“Masih terlalu awal untuk menyimpulkan bahwa pertumbuhan ini berkelanjutan atau hanya temporer akibat pent-up demand,” ujar Henderson.
Ke depan, konsumsi rumah tangga diperkirakan tetap tumbuh secara gradual. Namun, risiko justru berada pada sisi investasi atau Penanaman Modal Tetap Bruto (PMTB). Meski belanja modal meningkat sepanjang 2025, Henderson menilai tantangan akan lebih besar pada 2026, seiring potensi perlambatan ekonomi global akibat kebijakan tarif Amerika Serikat serta kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan fiskal dan moneter.
Sentimen Domestik Tekan Kepercayaan Pasar
Selain faktor fundamental, pelemahan IHSG juga tidak terlepas dari meningkatnya tekanan sentimen domestik. Pasar tengah dihadapkan pada sejumlah isu yang menguji kepercayaan investor asing, mulai dari kekhawatiran perubahan bobot Indonesia dalam indeks MSCI, maraknya kasus dugaan manipulasi saham berkapitalisasi kecil, hingga penurunan outlook peringkat kredit Indonesia oleh Moody’s menjadi negatif.
Kombinasi faktor tersebut membuat pelaku pasar cenderung bersikap defensif meski data makro menunjukkan perbaikan. Investor global dinilai lebih sensitif terhadap risiko kebijakan, tata kelola, dan stabilitas pasar dibandingkan sekadar angka pertumbuhan ekonomi.
Pasar Masih Mencari Kepastian
Dengan begitu, meski pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di jalur positif, pasar saham masih membutuhkan kejelasan lanjutan, terutama terkait stabilitas kebijakan, kredibilitas regulasi, serta konsistensi reformasi struktural. Selama ketidakpastian tersebut masih membayangi, respons IHSG terhadap data ekonomi positif cenderung terbatas dan volatilitas pasar berpotensi tetap tinggi.

