[Medan | 4 Maret 2026] Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto secara langsung mengundang para presiden dan wakil presiden terdahulu untuk bersilaturahmi sekaligus bertukar pandangan di Istana Merdeka, Selasa malam, 3 Maret 2026.
Pertemuan yang dijadwalkan berlangsung pukul 19.30 WIB tersebut juga mengundang sejumlah mantan menteri luar negeri serta para ketua umum partai politik yang memiliki perwakilan di DPR RI.
“Presiden ingin bersilaturahmi dan bertukar pandangan dengan para tokoh tersebut. Alhamdulillah hampir sebagian besar hadir untuk diskusi,” ujar Teddy kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan RI sebelum acara dimulai.
Tokoh Nasional Mulai Berdatangan
Sejumlah tokoh nasional mulai tiba di Istana selepas berbuka puasa. Di antaranya Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh, jajaran menteri Kabinet Merah Putih, serta Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie.
Teddy mengungkapkan bahwa sejumlah presiden dan wakil presiden terdahulu telah mengonfirmasi kehadiran. Mereka antara lain Presiden ke-7 RI Joko Widodo, Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke-13 Ma’ruf Amin, serta Wakil Presiden ke-11 Boediono.
Sementara itu, terkait kehadiran Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, Teddy menyatakan masih akan melakukan pengecekan ke bagian protokol.
Ketua Umum Partai dan Agenda Strategis
Untuk unsur partai politik, Teddy menyebutkan bahwa terdapat delapan ketua umum partai parlemen yang telah mengonfirmasi kehadiran, meskipun daftar lengkapnya belum dirinci secara terbuka.
Terkait agenda pembahasan, Teddy menjelaskan bahwa Presiden Prabowo ingin berdiskusi mengenai berbagai isu strategis, termasuk perkembangan geopolitik global, khususnya situasi di kawasan Asia Barat yang tengah memanas akibat eskalasi konflik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran.
Konsolidasi Hadapi Dinamika Global
Pertemuan lintas tokoh nasional tersebut dinilai sebagai langkah konsolidasi untuk menyatukan pandangan dan perspektif dalam menghadapi dinamika global yang semakin kompleks, serta potensi dampaknya terhadap stabilitas nasional dan kepentingan Indonesia di tingkat internasional.

