IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

Purbaya Pastikan Ekonomi Saat Ini Berbeda dengan Krisis Moneter 1998

By Aurelia Tanu 1 hour ago Ekonomi
Image source: AP/ cnbcindonesia.com
SHARE

[Medan | 19 Mei 2026] Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini sangat berbeda dibanding krisis moneter 1997–1998, meskipun nilai tukar rupiah telah menyentuh level terlemah sepanjang sejarah di atas Rp17.600 per dolar Amerika Serikat.

Contents
Krisis 1998 Dipicu Resesi dan Instabilitas PolitikEkonomi Indonesia 2026 Masih BertumbuhPenyebab Pelemahan Rupiah Saat IniFundamental Indonesia Dinilai Lebih KuatPurbaya Ajak Investor “Serok Bawah”Risiko Tetap Perlu DiwaspadaiDampak terhadap Pasar Keuangan

Pernyataan ini disampaikan untuk meredam kekhawatiran pelaku pasar setelah rupiah ditutup di level Rp17.656 per dolar AS pada perdagangan Senin (18/5/2026), sekaligus mencatat rekor pelemahan terburuk dalam sejarah.

Krisis 1998 Dipicu Resesi dan Instabilitas Politik

Menurut Purbaya, krisis 1997–1998 terjadi ketika Indonesia sudah lebih dahulu masuk ke dalam resesi, disertai kesalahan kebijakan ekonomi, lemahnya sistem perbankan, serta ketidakstabilan sosial dan politik.

Pada saat itu, banyak perusahaan memiliki utang valas besar tanpa lindung nilai, cadangan devisa terbatas, dan sistem perbankan menghadapi tekanan likuiditas yang berat.

Ekonomi Indonesia 2026 Masih Bertumbuh

Berbeda dengan 1998, ekonomi Indonesia saat ini masih mencatat pertumbuhan positif. Konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama, perbankan berada dalam kondisi relatif sehat, dan pemerintah masih memiliki ruang kebijakan untuk menjaga stabilitas.

Purbaya menilai bahwa pelemahan rupiah kali ini lebih banyak dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan persepsi risiko investor terhadap aset Indonesia, bukan karena keruntuhan fundamental ekonomi domestik.

Penyebab Pelemahan Rupiah Saat Ini

Tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak dunia, tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat, serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.

Di sisi domestik, kekhawatiran terhadap prospek fiskal, penurunan cadangan devisa, dan arus keluar modal asing turut memperbesar tekanan pada pasar keuangan.

Fundamental Indonesia Dinilai Lebih Kuat

Dibanding periode krisis Asia, Indonesia kini memiliki fondasi yang lebih solid. Bank Indonesia menjalankan kebijakan moneter yang lebih kredibel, perbankan memiliki rasio permodalan yang kuat, dan cadangan devisa masih menjadi bantalan penting untuk stabilisasi nilai tukar.

Selain itu, sistem nilai tukar yang lebih fleksibel memungkinkan penyesuaian pasar terjadi secara bertahap, tanpa tekanan mendadak seperti yang terjadi pada akhir 1990-an.

Purbaya Ajak Investor “Serok Bawah”

Purbaya juga menyampaikan pandangan optimistis terhadap pasar saham domestik. Menurutnya, koreksi yang terjadi justru dapat menjadi peluang bagi investor untuk mengakumulasi saham-saham berkualitas pada valuasi yang lebih murah.

Ia meyakini bahwa tekanan pasar bersifat sementara dan berpotensi pulih dalam waktu relatif singkat jika sentimen global mulai membaik.

Risiko Tetap Perlu Diwaspadai

Meskipun kondisi saat ini tidak identik dengan krisis 1998, pelemahan rupiah tetap membawa konsekuensi penting. Inflasi impor dapat meningkat, biaya subsidi energi bertambah, dan tekanan terhadap pasar obligasi maupun saham dapat berlanjut.

Karena itu, stabilitas kebijakan fiskal dan moneter tetap menjadi faktor kunci dalam menjaga kepercayaan investor.

Dampak terhadap Pasar Keuangan

Jika tekanan terhadap rupiah terus berlanjut, Bank Indonesia berpotensi mempertahankan kebijakan moneter ketat, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga apabila volatilitas meningkat tajam.

Dalam jangka pendek, pasar saham dan obligasi masih akan sensitif terhadap perkembangan nilai tukar, harga minyak, dan arah kebijakan global.

 

You Might Also Like

Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah, Anggota DPR Minta Bos BI Mundur

Trump Bakal Lantik Kevin Warsh Jadi Ketua The Fed Baru pada Jumat

Harga Minyak Turun Usai Trump Tunda Serangan ke Iran

Rupiah Terus Melemah, BI Harus Naikkan Suku Bunga di RDG Besok?

Senat AS Sahkan Kevin Warsh Jadi Ketua The Fed, Tunggu Pelantikan

TAGGED: purbaya, Rupiah melemah
Aurelia Tanu May 19, 2026 May 19, 2026
Previous Article Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah, Anggota DPR Minta Bos BI Mundur
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Komplek CitraLand Gama City, Madison Avenue, Blok R6 No. 90, Deli Serdang, Sumatera Utara, Indonesia
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?