[Medan | 26 Januari 2026] Harga emas dunia mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah dengan menembus level US$5.000 per ons pada perdagangan Senin. Kenaikan ini memperpanjang reli tajam sejak pekan lalu, seiring meningkatnya permintaan aset lindung nilai di tengah eskalasi ketegangan geopolitik global dan meningkatnya ketidakpastian arah kebijakan ekonomi dunia.
Berdasarkan data Investing.com, harga emas spot naik 1,1% dan mencapai puncak baru di US$5.035,83 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat juga menguat 1,1% ke level tertinggi sepanjang masa di US$5.074,71 per ons. Secara mingguan, harga emas melonjak lebih dari 8%, sementara sejak awal tahun telah menguat hampir 17%.
Kenaikan tajam tidak hanya terjadi pada emas, tetapi juga logam mulia lainnya. Harga perak melonjak lebih dari 2% dan mencetak rekor baru di US$106,56 per ons, sedangkan platinum naik ke level tertinggi US$2.798,46 per ons. Lonjakan serempak ini mencerminkan meningkatnya alokasi investor global ke aset safe haven di tengah volatilitas pasar keuangan.
Dari sisi sentimen global, reli emas dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik, terutama memanasnya hubungan Amerika Serikat dengan sejumlah sekutu NATO terkait isu Greenland, serta meningkatnya gesekan perdagangan antara AS dan Kanada. Ketidakpastian ini memperkuat persepsi risiko global dan mendorong investor mengurangi eksposur pada aset berisiko, beralih ke emas sebagai penyimpan nilai.
Selain faktor geopolitik, ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat turut menopang harga emas. Pasar memperkirakan Federal Reserve akan menahan suku bunga pada pertemuan pekan ini, dengan peluang pelonggaran kebijakan moneter tetap terbuka di paruh kedua 2026. Prospek suku bunga yang lebih rendah menurunkan opportunity cost kepemilikan emas, sehingga memperkuat daya tarik logam mulia tersebut.
Dari perspektif Indonesia, lonjakan harga emas global berpotensi memberikan sentimen positif bagi emiten tambang emas dan sektor logam mulia di pasar saham. Di sisi lain, kenaikan emas juga mencerminkan meningkatnya aversi risiko global, yang berpotensi menekan arus modal asing ke aset berisiko di emerging market, termasuk Indonesia. Bagi pasar obligasi, kondisi ini cenderung mendorong minat terhadap instrumen defensif, meskipun volatilitas global tetap dapat menjaga yield Surat Berharga Negara berada di level relatif tinggi dalam jangka pendek.

