[Medan | 20 Januari 2026] Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan pada level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 20–21 Januari 2026. Konsensus ini muncul di tengah tekanan pelemahan nilai tukar rupiah yang kembali mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS.
Kepala Ekonom BCA David Sumual menilai, ruang pelonggaran kebijakan moneter masih terbatas pada awal tahun ini, mengingat stabilitas nilai tukar menjadi prioritas utama BI. Rupiah tercatat melemah pada perdagangan Senin (19/1), dengan kurs spot berada di kisaran Rp16.922 per dolar AS, melemah dibandingkan penutupan akhir pekan sebelumnya.
Menurut David, meskipun inflasi domestik relatif terkendali, pelemahan rupiah membuat BI perlu menjaga daya tarik aset berbasis rupiah melalui kebijakan suku bunga yang stabil. Ia memperkirakan dalam jangka pendek rupiah akan bergerak di rentang Rp16.800–Rp17.000 per dolar AS.
Fokus Pasar Beralih ke Fiskal
Lebih lanjut, David menekankan bahwa perhatian investor saat ini lebih tertuju pada arah kebijakan fiskal dibandingkan kebijakan moneter. Kebijakan moneter dinilai sudah cukup kredibel, sementara kesinambungan fiskal—termasuk defisit dan pembiayaan anggaran—menjadi faktor utama yang memengaruhi persepsi risiko terhadap rupiah.
Oleh karena itu, ia berharap kebijakan fiskal ke depan tetap konservatif dan prudent agar tekanan terhadap nilai tukar tidak semakin dalam.
BI Jaga Spread dengan The Fed
Pandangan serupa disampaikan Ekonom Bank Danamon Hosianna Evalita Situmorang. Ia memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga demi menjaga imbal hasil aset domestik tetap menarik dan mendukung stabilitas rupiah.
Ke depan, peluang pelonggaran suku bunga masih terbuka sepanjang 2026, terutama jika The Fed mulai memasuki fase pemangkasan suku bunga lanjutan. Namun, waktu penurunan suku bunga BI diperkirakan akan tetap mempertimbangkan kebutuhan menjaga spread suku bunga guna menahan tekanan terhadap rupiah dan mengendalikan inflasi domestik.
Stabilitas Didahulukan, Ruang Cut Masih Ada
Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, juga menilai BI masih akan fokus pada stabilitas moneter dalam jangka pendek. Meskipun pertumbuhan ekonomi dan sektor riil membutuhkan dukungan suku bunga yang lebih rendah, kondisi eksternal dan pergerakan nilai tukar dinilai belum cukup kondusif.
Ia mencatat bahwa pertumbuhan kredit masih berada di kisaran satu digit dan sektor riil belum sepenuhnya pulih. Namun, penurunan suku bunga berpotensi dipertimbangkan setelah puncak inflasi yang diperkirakan terjadi sekitar April 2026, terutama jika rupiah menunjukkan penguatan.
Strategi BI Menjaga Rupiah
Dalam menjaga stabilitas nilai tukar, BI dinilai telah menempuh langkah yang tepat melalui kombinasi kebijakan suku bunga dan intervensi di berbagai instrumen pasar, mulai dari pasar spot, NDF offshore, DNDF domestik, pasar swap, hingga lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Menurut Myrdal, tekanan rupiah saat ini lebih disebabkan oleh ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan dolar di dalam negeri. Permintaan dolar untuk impor, pembayaran utang luar negeri, dan repatriasi hasil investasi belum sepenuhnya diimbangi oleh pasokan valas, meskipun likuiditas dolar secara nominal tergolong memadai.
Dampak ke Pasar Keuangan dan Obligasi
Dari perspektif pasar keuangan, sikap BI yang cenderung hawkish-stabil memberikan sinyal positif bagi pasar obligasi, terutama dalam menjaga kepercayaan investor asing. Namun, tekanan pada rupiah berpotensi membatasi penurunan yield lebih lanjut dalam jangka pendek.

