IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

Rupiah Dekati 17.000, BI Diproyeksikan Tahan Suku Bunga di Rapat Januari 2026

By Aurelia Tanu 3 hours ago Ekonomi
Image source: AP/ satukanindonesia.com
SHARE

[Medan | 20 Januari 2026] Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan pada level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 20–21 Januari 2026. Konsensus ini muncul di tengah tekanan pelemahan nilai tukar rupiah yang kembali mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS.

Contents
Fokus Pasar Beralih ke FiskalBI Jaga Spread dengan The FedStabilitas Didahulukan, Ruang Cut Masih AdaStrategi BI Menjaga RupiahDampak ke Pasar Keuangan dan Obligasi

Kepala Ekonom BCA David Sumual menilai, ruang pelonggaran kebijakan moneter masih terbatas pada awal tahun ini, mengingat stabilitas nilai tukar menjadi prioritas utama BI. Rupiah tercatat melemah pada perdagangan Senin (19/1), dengan kurs spot berada di kisaran Rp16.922 per dolar AS, melemah dibandingkan penutupan akhir pekan sebelumnya.

Menurut David, meskipun inflasi domestik relatif terkendali, pelemahan rupiah membuat BI perlu menjaga daya tarik aset berbasis rupiah melalui kebijakan suku bunga yang stabil. Ia memperkirakan dalam jangka pendek rupiah akan bergerak di rentang Rp16.800–Rp17.000 per dolar AS.

Fokus Pasar Beralih ke Fiskal

Lebih lanjut, David menekankan bahwa perhatian investor saat ini lebih tertuju pada arah kebijakan fiskal dibandingkan kebijakan moneter. Kebijakan moneter dinilai sudah cukup kredibel, sementara kesinambungan fiskal—termasuk defisit dan pembiayaan anggaran—menjadi faktor utama yang memengaruhi persepsi risiko terhadap rupiah.

Oleh karena itu, ia berharap kebijakan fiskal ke depan tetap konservatif dan prudent agar tekanan terhadap nilai tukar tidak semakin dalam.

BI Jaga Spread dengan The Fed

Pandangan serupa disampaikan Ekonom Bank Danamon Hosianna Evalita Situmorang. Ia memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga demi menjaga imbal hasil aset domestik tetap menarik dan mendukung stabilitas rupiah.

Ke depan, peluang pelonggaran suku bunga masih terbuka sepanjang 2026, terutama jika The Fed mulai memasuki fase pemangkasan suku bunga lanjutan. Namun, waktu penurunan suku bunga BI diperkirakan akan tetap mempertimbangkan kebutuhan menjaga spread suku bunga guna menahan tekanan terhadap rupiah dan mengendalikan inflasi domestik.

Stabilitas Didahulukan, Ruang Cut Masih Ada

Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, juga menilai BI masih akan fokus pada stabilitas moneter dalam jangka pendek. Meskipun pertumbuhan ekonomi dan sektor riil membutuhkan dukungan suku bunga yang lebih rendah, kondisi eksternal dan pergerakan nilai tukar dinilai belum cukup kondusif.

Ia mencatat bahwa pertumbuhan kredit masih berada di kisaran satu digit dan sektor riil belum sepenuhnya pulih. Namun, penurunan suku bunga berpotensi dipertimbangkan setelah puncak inflasi yang diperkirakan terjadi sekitar April 2026, terutama jika rupiah menunjukkan penguatan.

Strategi BI Menjaga Rupiah

Dalam menjaga stabilitas nilai tukar, BI dinilai telah menempuh langkah yang tepat melalui kombinasi kebijakan suku bunga dan intervensi di berbagai instrumen pasar, mulai dari pasar spot, NDF offshore, DNDF domestik, pasar swap, hingga lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Menurut Myrdal, tekanan rupiah saat ini lebih disebabkan oleh ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan dolar di dalam negeri. Permintaan dolar untuk impor, pembayaran utang luar negeri, dan repatriasi hasil investasi belum sepenuhnya diimbangi oleh pasokan valas, meskipun likuiditas dolar secara nominal tergolong memadai.

Dampak ke Pasar Keuangan dan Obligasi

Dari perspektif pasar keuangan, sikap BI yang cenderung hawkish-stabil memberikan sinyal positif bagi pasar obligasi, terutama dalam menjaga kepercayaan investor asing. Namun, tekanan pada rupiah berpotensi membatasi penurunan yield lebih lanjut dalam jangka pendek.

 

You Might Also Like

Thomas Djiwandono Diusulkan Jadi Deputi Gubernur BI, Independensi BI Terancam?

Trump Bakal Kenakan Tarif Bagi 8 Negara Eropa yang Tak Setuju AS Caplok Greenland

Aliran Asing Keluar RI Tembus Rp 7,71 Triliun di Pekan Kedua Januari

Rupiah Melemah Meski IHSG Terus Cetak ATH, Ada Apa?

AS Hentikan Sementara Penerbitan Visa Imigran Untuk 75 Negara

TAGGED: BI suku bunga, RDG Januari 2026, rupiah 17.000
Aurelia Tanu January 20, 2026 January 20, 2026
Previous Article Thomas Djiwandono Diusulkan Jadi Deputi Gubernur BI, Independensi BI Terancam?
Next Article Prajogo Pangestu Borong Saham CUAN hingga BREN Senilai Rp 16 Miliar
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Komplek CitraLand Gama City, Madison Avenue, Blok R6 No. 90, Deli Serdang, Sumatera Utara, Indonesia
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?