[Medan | 28 Februari 2025] Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Kamis (27/2/2025), melemah 0,44% ke level Rp 16.454 per dolar AS, menjadi level terendah sejak 2 April 2020.
Tekanan tak hanya dirasakan rupiah, tetapi juga sebagian besar mata uang Asia. Berdasarkan data Bloomberg, yen Jepang turun 0,18%, dolar Singapura melemah 0,02%, won Korea Selatan turun 0,42%, dan peso Filipina merosot 0,02%. Rupee India dan yuan China juga mengalami pelemahan, masing-masing terkoreksi 0,58% dan 0,07%.
Sentimen utama yang menekan rupiah berasal dari faktor global, terutama pernyataan Donald Trump mengenai rencana pengenaan tarif impor 25% terhadap Uni Eropa serta ketidakpastian tarif bagi China, Kanada, dan Meksiko. Kebijakan ini mendorong penguatan dolar AS, yang berdampak pada pelemahan mata uang lainnya.
Di dalam negeri, Presiden Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi yang ambisius, mencapai 8% pada 2029. Target ini tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2025.
Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia ditetapkan meningkat setiap tahunnya, dengan target 5,3% pada 2025, lebih tinggi dari asumsi APBN sebesar 5,2%. Selanjutnya, pertumbuhan ekonomi ditargetkan mencapai 6,3% pada 2026, naik menjadi 7,5% pada 2027, kemudian 7,7% pada 2028, dan akhirnya mencapai 8% pada 2029.
Untuk mencapai target tersebut, pemerintah akan menerapkan kebijakan ekonomi makro yang ditopang oleh kebijakan fiskal, moneter, serta reformasi struktural yang adaptif. Sementara itu, untuk perdagangan Jumat (28/2), rupiah diperkirakan masih akan bergerak melemah di kisaran Rp 16.440–Rp 16.500 per dolar AS.