[Medan | 13 Februari 2026] Rusia dikabarkan tengah mempertimbangkan untuk kembali menggunakan dolar AS dalam sistem penyelesaian transaksi internasional sebagai bagian dari proposal kerja sama ekonomi luas dengan Amerika Serikat. Informasi ini terungkap dari dokumen internal Kremlin yang ditinjau Bloomberg, dan menandai potensi pembalikan arah kebijakan besar setelah bertahun-tahun Rusia menjauh dari dominasi dolar pasca-sanksi Barat.
Konteks Negosiasi Damai Ukraina
Proposal tersebut muncul seiring pembahasan kesepakatan untuk mengakhiri perang Ukraina, yang disebut-sebut melibatkan pelonggaran sanksi AS terhadap Rusia sebagai prasyarat utama. Dalam memo tingkat tinggi yang beredar di kalangan pejabat senior Kremlin, Rusia melihat adanya titik temu kepentingan ekonomi dengan Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump, termasuk di sektor energi, manufaktur, dan keuangan global.
Inti Tawaran: Kembali ke Sistem Dolar
Poin paling krusial dari proposal tersebut adalah rencana Rusia untuk kembali ke sistem settlement berbasis dolar, termasuk kemungkinan penggunaan dolar dalam transaksi energi. Langkah ini akan menjadi perubahan drastis, mengingat sebelumnya Vladimir Putin secara agresif mendorong dedolarisasi dan memperkuat kerja sama keuangan dengan China dan negara berkembang lain.
Energi dan Sumber Daya Jadi Alat Tawar
Selain dolar, Kremlin menawarkan kerja sama luas di sektor minyak dan gas, termasuk proyek LNG, eksplorasi offshore, serta pengembangan cadangan mineral strategis seperti nikel, tembaga, dan lithium. Rusia juga membuka peluang bagi perusahaan AS untuk kembali ke pasar domestik dan memulihkan kerugian akibat sanksi sebelumnya—sebuah tawaran yang dinilai sangat politis dan strategis.
Tarik-Ulur dengan China
Meski proposal ini tampak ambisius, pejabat Barat menilai peluang realisasinya kecil karena berpotensi berbenturan langsung dengan kepentingan Beijing. Sejak sanksi Barat diberlakukan, China menjadi mitra dagang dan pemasok utama Rusia, terutama untuk kebutuhan industri dan militer. Berpaling kembali ke dolar berarti meningkatkan ketergantungan pada sistem keuangan AS—sesuatu yang selama ini ingin dihindari Moskow.
Implikasi Global: Dolar dan Geopolitik
Jika benar terealisasi, kembalinya Rusia ke sistem dolar berpotensi memperkuat posisi greenback sebagai mata uang cadangan global dan menurunkan volatilitas neraca pembayaran Rusia. Bagi AS, langkah ini akan menjadi kemenangan geopolitik besar sekaligus alat untuk melemahkan poros Moskow–Beijing. Namun, pasar global menilai ini masih sebatas wacana strategis, bukan kebijakan final.
Pandangan Ukraina dan Risiko Politik
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyebut adanya pembahasan kesepakatan ekonomi bilateral AS–Rusia yang berjalan paralel dengan negosiasi damai. Paket tawaran Kremlin ini, yang dijuluki “Dmitriev Package”, dinilai sarat manuver politik dan berpotensi memecah soliditas AS dengan sekutu Eropanya.

