[Medan | 6 Maret 2026] China dilaporkan menangguhkan ekspor solar dan bensin melalui arahan ke kilang minyak terbesar di negeri tersebut. Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya risiko krisis pasokan energi akibat perang di Timur Tengah, yang memengaruhi jalur perdagangan minyak global melalui Selat Hormuz.
AFP mengutip Bloomberg News, Kamis (5/3/2026), melaporkan bahwa China, sebagai importir bersih minyak, meminta para pengolah minyak untuk menunda pengiriman produk olahan dan menghentikan penandatanganan kontrak baru. Permintaan ini disampaikan oleh Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional, badan perencana ekonomi utama China, dalam pertemuan dengan perwakilan kilang.
“Para pengolah minyak diminta untuk berhenti menandatangani kontrak baru dan menegosiasikan pembatalan pengiriman yang telah disepakati,” ujar laporan Bloomberg mengutip sumber yang mengetahui arahan tersebut.
Menurut perusahaan analitik Kpler, pada 2025, Timur Tengah menyumbang 57% dari impor minyak mentah langsung China melalui jalur laut. Kilang besar seperti PetroChina, Sinopec, CNOOC, Sinochem Group, dan Zhejiang Petrochemical secara rutin memperoleh kuota ekspor bahan bakar dari pemerintah.
Langkah ini menandai tindakan preventif China untuk menjaga stabilitas pasokan domestik, sekaligus mengantisipasi dampak geopolitik yang semakin meningkat terhadap perdagangan energi di kawasan Asia dan global.

