IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

The Fed Diproyeksi Tahan Suku Bunga di Oktober 2026

By Aurelia 3 hours ago Ekonomi
Image source: AP/ ekonomi.bisnis.com
SHARE

[Medan | 28 Oktober 2026] Bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada Oktober 2026. Jeda tersebut diperkirakan memberi ruang bagi para pejabat bank sentral untuk mengevaluasi perkembangan inflasi dan dampak kebijakan moneter sebelumnya terhadap perekonomian.

Mengutip CNBC International, Rabu (28/10/2026), pelaku pasar memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga setelah menaikkannya sebesar 25 basis poin pada September lalu. Berdasarkan perdagangan kontrak berjangka suku bunga federal, peluang kenaikan suku bunga pada Oktober hanya sekitar 10%.

Namun, ekspektasi pengetatan kembali meningkat untuk pertemuan Desember. Probabilitas kenaikan suku bunga pada bulan tersebut telah melampaui 80% berdasarkan perangkat FedWatch milik CME Group. Perbedaan ekspektasi antara Oktober dan Desember menunjukkan bahwa pasar memperkirakan The Fed akan mengambil jeda sementara sebelum mempertimbangkan pengetatan lanjutan, terutama karena inflasi AS belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Inflasi Masih Menjadi Pertimbangan Utama

Tekanan inflasi menjadi salah satu faktor utama yang membayangi keputusan The Fed. Indeks harga konsumen atau consumer price index (CPI) AS pada September 2026 tercatat tumbuh 3,7% secara tahunan, terutama dipicu kenaikan harga energi. Sementara itu, inflasi inti mencapai 2,6%, naik 0,3 poin persentase dibandingkan Agustus. Angka tersebut masih berada di atas target inflasi The Fed sebesar 2%.

Ekonom Senior Deutsche Bank Brett Ryan menilai data inflasi terbaru memperkuat kemungkinan pengetatan moneter lanjutan. Meski demikian, jeda pada Oktober dinilai dapat memberikan waktu bagi pejabat bank sentral untuk menilai apakah tekanan inflasi bersifat sementara atau berpotensi bertahan lebih lama.

Ryan menyebut Ketua The Fed Kevin Warsh kemungkinan akan menyampaikan bahwa perkembangan inflasi memperkuat pandangan dari pertemuan September mengenai perlunya pengetatan lebih lanjut. Namun, keputusan melewatkan kenaikan pada Oktober memberi ruang untuk mengevaluasi tren data sebelum menentukan langkah berikutnya.

Sinyal Kevin Warsh Jadi Sorotan

Selain keputusan suku bunga, perhatian pasar akan tertuju pada pernyataan Kevin Warsh setelah pertemuan FOMC. Warsh diketahui mendorong perubahan pendekatan komunikasi bank sentral, termasuk mengurangi ketergantungan pada forward guidance atau panduan mengenai arah kebijakan suku bunga pada masa mendatang.

Kepala Ekonomi dan Strategi Evercore ISI Krishna Guha menilai pengetatan moneter berpotensi berlangsung bertahap, dengan kenaikan suku bunga sekitar sekali per kuartal sebagai skenario dasar. Namun, arah tersebut tetap bergantung pada perkembangan inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Guha memperingatkan bahwa apabila inflasi terus berada di atas ekspektasi atau pertumbuhan ekonomi tidak menunjukkan perlambatan, The Fed berpotensi kembali menaikkan suku bunga.

Meski demikian, pandangan ekonom tidak sepenuhnya seragam. Ekonom Citigroup memperkirakan inflasi yang lebih rendah dalam beberapa bulan mendatang dapat membuka ruang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga dan mulai memangkasnya pada tahun depan. Kendati demikian, mereka masih memperkirakan kenaikan suku bunga pada Desember. Perbedaan proyeksi tersebut menunjukkan bahwa arah kebijakan moneter AS masih sangat bergantung pada data ekonomi yang akan dirilis dalam beberapa bulan mendatang.

Risiko Pengetatan terhadap Ekonomi AS

Penasihat Ekonomi Utama Allianz Mohamed El-Erian juga memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan. Namun, ia mengingatkan bahwa pengetatan moneter berisiko memperbesar tekanan pada pasar perumahan dan memperlebar kesenjangan ekonomi. Pasar perumahan AS masih menghadapi biaya kredit pemilikan rumah yang bertahan di atas 7%. Pada saat yang sama, pasar tenaga kerja menunjukkan kondisi ketika pemutusan hubungan kerja relatif rendah, tetapi perekrutan pekerja baru juga terbatas.

Menurut El-Erian, kenaikan suku bunga berpotensi menambah beban pada sektor perumahan, kredit kendaraan, dan pinjaman konsumen. Ia juga menilai pengendalian fiskal perlu mendapat perhatian lebih besar dalam menangani persoalan inflasi dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi The Fed dalam menyeimbangkan upaya pengendalian inflasi dengan risiko perlambatan ekonomi. Pengetatan yang terlalu agresif dapat menekan aktivitas ekonomi, sedangkan pelonggaran terlalu cepat berisiko membuat inflasi bertahan di atas target.

Dampak terhadap US Treasury, Dolar AS, dan SBN

Di pasar keuangan, pelaku pasar juga memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada Maret 2027, disusul peluang sekitar 50% untuk satu kenaikan tambahan sebelum akhir tahun depan. Ekspektasi tersebut berpotensi memengaruhi pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury, dolar AS, serta arus modal global. Jika The Fed memberikan sinyal pengetatan lebih lanjut, yield US Treasury berpotensi tetap tinggi dan dolar AS dapat memperoleh dukungan. Kondisi tersebut dapat menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Bagi pasar obligasi Indonesia, kenaikan yield US Treasury dapat meningkatkan daya tarik relatif aset berdenominasi dolar AS dan mendorong investor meminta imbal hasil lebih tinggi pada surat berharga negara (SBN). Dampaknya dapat semakin terasa apabila tekanan terhadap rupiah dan persepsi risiko domestik juga meningkat.

Sebaliknya, jika pernyataan The Fed lebih lunak daripada ekspektasi pasar, yield US Treasury dan dolar AS berpotensi melemah sehingga memberikan ruang bagi aset negara berkembang untuk menguat. Namun, respons pasar tetap bergantung pada isi pernyataan bank sentral dan perkembangan inflasi.

Dengan demikian, keputusan FOMC Oktober tidak hanya penting untuk menentukan arah suku bunga AS dalam waktu dekat, tetapi juga untuk membaca prospek kebijakan moneter hingga 2027. Investor perlu mencermati keputusan resmi, pernyataan Kevin Warsh, serta data inflasi dan tenaga kerja berikutnya sebelum mengambil kesimpulan mengenai arah pasar.

 

You Might Also Like

BEM UI Demo Hari Ini, Apa Saja Tuntutannya?

BEI Gelar RUPSLB Hari Ini, Bahas Demutualisasi hingga Dividen

Update Hitung Cepat Pemilu Israel: Netanyahu dan Eisenkot Imbang

Lelang SUN Mendingin, Pemerintah Raup di Bawah Target

IPO Anthropic Bangkitkan Saham Teknologi, Bursa Asia Siap Menguat?

Aurelia October 28, 2026 October 28, 2026
Previous Article Update Hitung Cepat Pemilu Israel: Netanyahu dan Eisenkot Imbang
Next Article BEI Gelar RUPSLB Hari Ini, Bahas Demutualisasi hingga Dividen
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Mentari Greenwich B7-8, Jl. Letda Sujono No.64, Bandar Selamat, Kec. Medan Tembung, Kota Medan, Sumatera Utara 20223
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?